Zulfikar Dorong UMKM Bali Bersertifikat Halal, Bidik Pasar Wisatawan Muslim
- account_circle admin
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR — Sertifikasi halal dinilai bukan sekadar pemenuhan legalitas produk, tetapi juga dapat menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing dan membuka pasar baru bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bali.
Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Provinsi Bali, Zulfikar Wijaya, S.E., dalam kegiatan Pendampingan Legalitas dan Sertifikasi Halal (PLSH) UMKM Tahun 2026 yang berlangsung di Wistara Bali, Senin (5/10/2026).
Kegiatan tersebut digelar melalui kolaborasi Yayasan Forkom Sahabat Surga Bali yang diketuai Fatimah Arsini, bersama HPN Badung yang diketuai Dwi Lilis.
Menurut Zulfikar, edukasi mengenai sertifikasi halal menjadi penting karena masih banyak pelaku UMKM yang belum memahami tata cara, persyaratan, maupun manfaat memiliki sertifikat halal.
Ia menilai sertifikasi halal memiliki keterkaitan erat dengan sektor pariwisata Bali, terutama dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan domestik, khususnya wisatawan muslim yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
“Agenda hari ini sebenarnya kita ingin memberikan edukasi kepada teman-teman di bawah HPN tentang bagaimana cara mendapatkan sertifikasi halal dan apa saja syarat-syaratnya,” ujar Zulfikar.
Sertifikasi Halal Bisa Buka Market Baru
Zulfikar mengatakan, sertifikasi halal dapat memberikan nilai tambah bagi produk UMKM Bali. Ketika sebuah produk memiliki label halal yang jelas, konsumen akan lebih mudah menentukan pilihan tanpa harus merasa ragu terhadap produk yang akan dikonsumsi.
Menurutnya, potensi pasar tersebut sangat besar mengingat Bali menjadi salah satu destinasi wisata utama di Indonesia dengan jumlah kunjungan wisatawan domestik yang tinggi.
“Ini juga menjadi penguatan di bidang pariwisata, karena akan meningkatkan berbagai macam omzet, terutama bagi pelaku UMKM. Fokus kita memang UMKM,” katanya.
Zulfikar mencontohkan wisatawan muslim yang datang dari Sulawesi, Kalimantan, Jawa maupun Sumatera. Sebagian dari mereka masih menghadapi persoalan ketika ingin mencari makanan yang memiliki kepastian halal selama berwisata di Bali.
“Bayangkan kalau hampir semua UMKM di Bali memiliki sertifikasi halal. Teman-teman muslim yang datang dari luar Bali tidak perlu bingung lagi mau makan di mana,” ujarnya.
Menurut Zulfikar, persoalan tersebut bahkan dapat ditemukan pada produk makanan sederhana yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat.
Ia mencontohkan makanan seperti rujak maupun olahan ikan. Ketika produk tersebut telah memiliki sertifikasi halal dan labelnya mudah dilihat, wisatawan muslim akan lebih percaya untuk membeli dan mengonsumsinya.
“Kalau ada label halal, mereka tidak ragu lagi untuk masuk. Hal-hal kecil seperti mau makan rujak pun menjadi lebih mudah karena ada kepastian,” ungkapnya.
UMKM Lokal Berpeluang Raup Konsumen Lebih Luas
Zulfikar menegaskan bahwa sertifikasi halal bukan hanya memberikan kenyamanan bagi konsumen, tetapi juga memberikan keuntungan bagi pelaku UMKM.
Dengan adanya kepastian halal, produk UMKM lokal Bali berpotensi menjangkau konsumen yang lebih luas, khususnya wisatawan domestik muslim.
“Jadi ini membuka market baru. Teman-teman domestik yang sebelumnya mungkin ragu, khususnya yang muslim, ketika sudah ada label halal mereka bisa langsung datang dan membeli,” tegasnya.
Ia menyebut hingga saat ini masih banyak wisatawan yang mempertanyakan lokasi maupun tempat makan halal di Bali. Padahal, menurutnya, cukup banyak pelaku usaha lokal yang sebenarnya telah menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen muslim.
Persoalannya adalah bagaimana memberikan kepastian dan informasi yang mudah dikenali konsumen.
“Banyak sekali sebenarnya yang halal di Bali. Tetapi bagaimana supaya masyarakat dari luar daerah tahu dan tidak ragu. Salah satunya dengan adanya sertifikasi dan label halal,” jelas Zulfikar.
Sinergi Dorong UMKM Naik Kelas
Zulfikar berharap kegiatan pendampingan seperti ini tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan konkret kepada pelaku UMKM hingga mereka mampu memenuhi persyaratan legalitas dan sertifikasi halal.
Menurutnya, semakin banyak UMKM Bali memiliki legalitas dan sertifikasi yang lengkap, semakin besar pula peluang produk lokal untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
Ia juga mengapresiasi kolaborasi Yayasan Forkom Sahabat Surga Bali dan HPN Badung dalam memberikan edukasi kepada para pelaku UMKM.
“Harapannya, teman-teman UMKM bisa mendapatkan pemahaman yang benar mengenai sertifikasi halal dan kemudian mengurusnya. Ini bukan hanya soal label, tetapi bagaimana produk UMKM kita semakin dipercaya dan mampu bersaing,” kata Zulfikar.
Ia berharap sertifikasi halal ke depan dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan UMKM sekaligus mendukung Bali sebagai destinasi pariwisata yang semakin ramah bagi seluruh wisatawan.
“Kalau UMKM kita semakin banyak yang memiliki sertifikasi halal, wisatawan muslim yang datang ke Bali tidak lagi ragu. Ini tentu menjadi keuntungan bagi UMKM sekaligus memperkuat pariwisata Bali,” pungkasnya.
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar