Lomba Layang-Layang Jembrana Tuai Sorotan, Bupati Kembang Minta Evaluasi Total
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JEMBRANA – Penyelenggaraan Lomba Layang-Layang Jembrana di Pantai Pengambengan, Minggu (30/8/2026), menuai kekecewaan dari sejumlah peserta atau rare angon. Sorotan tidak hanya diarahkan pada persoalan teknis penyelenggaraan, tetapi juga menyangkut koordinasi panitia, pengemasan kegiatan hingga proses penentuan juara.
Kekecewaan tersebut bahkan mendapat perhatian langsung dari Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan. Setelah melihat kondisi penyelenggaraan di lapangan, Kembang menilai event yang digelar organisasi Kite Pelangi Jembrana tersebut perlu mendapatkan evaluasi secara menyeluruh.
Menurutnya, sebuah kegiatan yang membawa nama daerah semestinya dipersiapkan secara matang dan dikelola dengan standar profesional. Terlebih, kegiatan seni dan budaya seperti lomba layang-layang memiliki potensi untuk menjadi daya tarik wisata sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat dan pelaku UMKM lokal.
“Pelaksanaannya sangat mengecewakan dan terkesan asal-asalan, tanpa persiapan yang matang. Bahkan event yang digarap komunitas kecil dengan anggaran lebih sedikit bisa dikemas jauh lebih baik dari ini. Ini harus jadi catatan sekaligus evaluasi total panitia,” tegas Kembang, Senin (31/8/2026).
Ia menekankan, organisasi maupun komunitas yang menyelenggarakan kegiatan di Jembrana harus memiliki keseriusan dalam mempersiapkan setiap event. Aspek profesionalisme, transparansi, koordinasi dan tanggung jawab dinilai penting untuk memastikan kegiatan tidak hanya berlangsung secara seremonial, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sorotan terhadap pelaksanaan lomba tersebut muncul dari sejumlah kondisi di lapangan. Persiapan yang dinilai belum optimal, suasana kegiatan yang disebut kurang semarak, hingga benturan jadwal dengan Denpasar Kite Festival menjadi bagian dari persoalan yang disayangkan peserta.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengurangi dampak positif yang seharusnya dapat diberikan sebuah event budaya terhadap sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi masyarakat. Kehadiran peserta, penonton, serta pelaku UMKM dalam sebuah kegiatan semestinya mampu menciptakan perputaran ekonomi yang lebih besar bagi daerah.
Terlebih, kegiatan tersebut turut mendapatkan dukungan anggaran dari Pemerintah Kabupaten Jembrana. Karena itu, kualitas penyelenggaraan menjadi perhatian penting agar dukungan pemerintah benar-benar berbanding lurus dengan manfaat yang diterima masyarakat.
Penilaian Juara Ikut Dipersoalkan
Selain persoalan teknis penyelenggaraan, proses penentuan juara juga menjadi titik kekecewaan sejumlah peserta.
Salah seorang peserta dari komunitas layang-layang yang meminta identitasnya tidak disebutkan mengatakan, persoalan yang terjadi tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan lomba, tetapi juga keputusan panitia dalam menentukan pemenang.
“Banyak kekecewaan yang terjadi, baik itu teknis sampai keputusan pengambilan juara yang dilakukan oleh pihak panitia. Kegaduhan ini sudah menimbulkan banyak kekecewaan, baik itu rare angon Jembrana dan rare angon Sarbagita,” ungkapnya.
Menurut dia, transparansi dalam proses penilaian merupakan hal mendasar dalam sebuah kompetisi. Kejelasan mekanisme penilaian dan konsistensi keputusan juri maupun panitia dinilai penting untuk menjaga sportivitas sekaligus kepercayaan peserta.
Ia berharap persoalan tersebut tidak berhenti sebagai polemik, tetapi menjadi bahan evaluasi bagi pengurus Pelangi Jembrana maupun seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan event layang-layang di Jembrana.
Didorong Evaluasi Kepengurusan
Peserta juga mendorong adanya evaluasi terhadap kepengurusan Pelangi Jembrana, termasuk kepemimpinan organisasi, agar ke depan mampu memberikan pengayoman yang lebih baik kepada komunitas dan para pecinta layang-layang.
“Perlu ada evaluasi terhadap Ketua Pelangi Jembrana saat ini. Yang kita butuhkan sosok yang memiliki kapasitas serta komitmen tinggi untuk mengayomi asosiasi sehingga kami tetap merasa dinaungi serta diurus oleh asosiasi,” ujarnya.
Harapan tersebut sejalan dengan dorongan agar organisasi yang menaungi komunitas layang-layang dapat membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan para rare angon. Dengan demikian, persoalan teknis maupun perbedaan pandangan dalam sebuah event dapat diselesaikan melalui mekanisme yang jelas dan tidak berkembang menjadi polemik.
Bupati Kembang sendiri menegaskan, pengalaman tersebut harus menjadi pembelajaran bagi penyelenggara maupun organisasi lainnya di Jembrana. Setiap event yang membawa nama daerah, menurutnya, harus dirancang dengan perencanaan matang, koordinasi yang kuat serta pertanggungjawaban yang jelas.
Bagi Jembrana, lomba layang-layang bukan semata-mata pertandingan. Tradisi rare angon merupakan bagian dari ekspresi seni, budaya dan kreativitas masyarakat Bali yang memiliki potensi dikembangkan menjadi atraksi wisata.
Karena itu, polemik dalam penyelenggaraan lomba kali ini diharapkan menjadi momentum untuk melakukan pembenahan. Event budaya ke depan diharapkan tidak hanya ramai secara seremonial, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman yang baik bagi peserta, penonton, pelaku UMKM dan masyarakat sekitar.
Dengan evaluasi yang menyeluruh, penyelenggaraan kegiatan serupa diharapkan dapat berjalan lebih profesional, transparan dan bertanggung jawab, sekaligus memperkuat posisi Jembrana sebagai daerah yang mampu mengemas potensi budaya menjadi kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar