Rakerda II HIPPI Bali: Winie Kaori Dorong Ekonomi Hijau Jadi Gerakan Nyata, UMKM Dipertemukan dengan Buyer
- account_circle admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BADUNG — Rapat Kerja Daerah (Rakerda) II DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Bali sekaligus peringatan HUT ke-3 DPD HIPPI Bali tidak hanya menjadi forum evaluasi dan penyusunan program organisasi. Momentum tersebut juga diarahkan untuk memperluas jaringan usaha serta mempertemukan pelaku UMKM dengan para calon pengguna dan pembeli.
Kegiatan yang digelar Sabtu (19/9/2026) di Kartika Plaza Hotel, Kuta, Badung, mengusung tema “Menguatkan Komitmen Mewujudkan Bali sebagai Pusat Ekonomi Hijau.”
Ketua Panitia Rakerda II sekaligus Ketua DPC HIPPI Kota Denpasar, Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota, yang akrab disapa Winie Kaori, mengatakan persiapan Rakerda telah dilakukan sejak dua minggu sebelum pelaksanaan. Menurutnya, persiapan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kegiatan organisasi tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menghasilkan jaringan dan kolaborasi yang berkelanjutan.
“Persiapan yang sudah kita lakukan dua minggu sebelum hari H menjadi catatan penting bagaimana penyelenggaraan sebuah Rakerda dalam komunikasi dan komunitas wajib kita lakukan,” ujar Winie.
Menurutnya, banyak organisasi memiliki agenda rapat kerja, namun yang menjadi tantangan adalah bagaimana memastikan hasil Rakerda memiliki komitmen untuk dijalankan secara berkelanjutan.
Karena itu, tema yang diangkat dalam Rakerda II HIPPI Bali harus memiliki hubungan dengan program dan karya nyata yang telah dilakukan organisasi sekaligus menjadi arah kerja untuk jangka panjang.
“Banyak organisasi yang mengadakan adanya Rakerda ini, tetapi Rakerda yang berkomitmen untuk berkelanjutan, di sinilah kita belajar bagaimana menentukan sebuah tema berhubungan dengan jangka panjang dari karya kerja nyata apa yang sudah dilakukan,” jelasnya.
Ekonomi Hijau Dimulai dari Langkah Kecil
Winie menegaskan bahwa konsep ekonomi hijau yang diusung HIPPI Bali bukan sekadar jargon. Menurutnya, ekonomi hijau harus dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap individu maupun pelaku usaha dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan pengelolaan sampah melalui prinsip reduce, reuse, recycle, pemanfaatan energi terbarukan seperti solar panel, hingga meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam menjalankan kegiatan usaha.
“Ekonomi hijau bukannya hanya wacana semata. Ekonomi hijau merupakan langkah kecil kita. Kalau tidak diingatkan dari sekarang, kita tidak menunggu lagi yang namanya bencana,” katanya.
Menurut Winie, kepedulian terhadap lingkungan tidak harus selalu dimulai dari kebijakan besar. Justru perubahan dapat dimulai dari apa yang dilakukan masing-masing individu dan pelaku usaha.
“Langkah kecil itu bisa berupa memilah sampah, menggunakan reuse, recycle, reduce, menggunakan solar panel, sampai halnya kita sebagai pelaku usaha untuk mengefektifkan dan mengefisienkan apa yang terjadi dalam satu usaha yang kita kerjakan,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh anggota HIPPI untuk tidak hanya melihat dampak kegiatan usaha dari sisi keuntungan ekonomi, tetapi juga memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan dan keberlanjutan.
“Tidak melihat jauh kepada orang-orangnya, tetapi melihat diri kita sendiri. Apa yang sudah kita lakukan untuk lingkungan dan alam semesta yang ada di sekitar kita,” tegas Winie.
Rakerda Jadi Ruang Membuka Networking
Bagi Winie, salah satu hal spesial dalam Rakerda II HIPPI Bali tahun ini adalah upaya menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang untuk memperluas networking antarpelaku usaha.
Stakeholder, undangan, dan pelaku usaha yang hadir diharapkan tidak sekadar mengikuti kegiatan, tetapi dapat menemukan titik temu untuk membangun kerja sama konkret.
“Melalui Rakerda ini diharapkan mampu membuka networking seluas-luasnya dari stakeholder yang hadir, para undangan, pelaku usaha, sampai mereka menemukan apa yang menjadi titik temu sebuah komunitas yang kita bangun di HIPPI Bali,” ungkapnya.
Konsep tersebut kemudian diwujudkan dengan mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pengguna produk secara langsung.
Salah satu contohnya adalah mempertemukan pelaku usaha beras dengan para general manager hotel yang tergabung dalam asosiasi general manager hotel di Bali.
Menurut Winie, pola pertemuan seperti itu dapat memperpendek rantai komunikasi antara pelaku usaha dan calon pembeli.
“Contoh kecil tadi kita pertemukan antara stakeholder GM hotel dengan pelaku usaha beras. Kalau usaha beras ini langsung datang ke hotel bintang lima, mungkin diterima dulu oleh manager purchasing, belum tentu langsung diakses oleh GM-nya,” jelasnya.
Karena itu, HIPPI Bali menghadirkan para general manager agar UMKM yang tergabung dalam organisasi dapat memiliki akses langsung untuk membangun komunikasi dan peluang kerja sama.
“Kita hadirkan supaya UMKM-UMKM yang tergabung di HIPPI Bali bisa koneksi langsung dan mempercepat adanya transaksi,” katanya.
Seller dan Buyer Dipertemukan
Winie mengatakan, inilah salah satu manfaat bergabung dalam organisasi pengusaha. Organisasi dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan pihak yang memiliki produk dengan pihak yang membutuhkan produk tersebut.
“Di sinilah manfaat untuk ikut berorganisasi supaya ketemu antara seller dan buyer, ketemu antara pengguna dan pelaku, ketemu antara pembeli dan penjual,” ujarnya.
Menurutnya, peluang kolaborasi tersebut tidak hanya terbatas pada satu jenis usaha. Berbagai sektor dapat dikembangkan melalui jaringan HIPPI Bali, mulai dari pertanian, produk suvenir, hingga usaha coffee shop.
“Baik itu usaha agriculture, usaha souvenir, usaha coffee shop yang nantinya bisa berkolaborasi, tidak satu titik, tetapi bisa 100 titik, 1.000 titik,” tegasnya.
Dengan memperluas jaringan tersebut, produk UMKM Bali diharapkan tidak hanya mendapatkan pasar baru, tetapi juga membangun hubungan bisnis yang berkelanjutan.
Tidak Sekadar Mengejar Profit
Winie menekankan bahwa keberhasilan sebuah komunitas pengusaha tidak semata-mata diukur dari besarnya keuntungan yang diperoleh dalam jangka pendek.
Menurutnya, setiap program harus mempertimbangkan manfaat jangka pendek, menengah, dan panjang.
“Tidak hanya melihat keuntungan secara profit di depan mata apa yang harus kita kerjakan, tetapi ada jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjangnya,” katanya.
Konsep inilah yang ingin dibangun HIPPI Bali melalui Rakerda II. Organisasi tidak hanya menjadi tempat berkumpul para pengusaha, tetapi menjadi ruang untuk membangun kolaborasi, membuka akses pasar, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, dan memperkuat ekonomi lokal.
Winie berharap anggota dan pengurus HIPPI Bali dapat merasakan manfaat nyata dari keberadaan organisasi, terutama dalam membangun koneksi usaha dan membuka peluang kolaborasi.
“Ini menjadi harapan kita, apa yang kita dapat rasakan menjadi orang anggota atau pengurus komunitas yang positif,” pungkasnya.
Rakerda II DPD HIPPI Bali pun menjadi momentum untuk memperkuat komitmen organisasi dalam membangun ekosistem usaha yang tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan serta memperluas kesempatan bagi UMKM Bali untuk terhubung langsung dengan pasar.
Reporter Putu Ivan
Redaktur Ivan Ernawan
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar