Bolehkah Penjor Galungan Dipasang Sebelum Hari Penampahan Galungan?
- account_circle admin
- calendar_month Senin, 17 Nov 2025
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR, Matakompas.com | Perayaan Hari Suci Galungan dan Kuningan yang dirayakan Umat Hindu di Indonesia selalu identik dengan pemasangan penjor di depan rumah,pura,kantor,toko dan tempat- tempat lain.
Khusus untuk Hari Suci Galungan,menurut Ida Bagus Partama,Klian dan Penglingsir Paiketan Semeton Giriya Telaga,Sanur menjelaskan mengenai Penjor Galungan.
“Sepatutnya nanceb Penjor Galungan bertepatan dengan Hari Penampahan Galungan.Dan penjornya wajib dilengkapi dengan pala bungkah,pala gantung,pala wija dan plawa serta sanggah penjor di samping materi utamanya janur,ambu atau ental.
Betapapun bagusnya hiasan penjor,berapapun banyaknya menelan biaya,bila tidak dilengkapi itu,tetap hanya menjadi sekedar penjor hiasan.Karena Penjor Galungan sejatinya adalah simbol kesuburan,kemakmuran,juga sebagai simbol Sang Naga Basuki serta ungkapan rasa syukur dan hormat kepada Hyang Widhi atas kemenangan Dharma melawan Adharma,” terangnya.
Jadi,bila penjor dipasang Hari Minggunya misalnya,itu sudah jelas tidak benar,apalagi kita nanceb penjor di Penyajahan Galungan.Itu Tri Waranya Kajeng, hari larang macek/ nanceb.Tapi jaman sekarang banyak orang dikejar waktu,serba buru-buru,sehingga melanggar kepatutan itu.
“ungkap mantan manager beberapa hotel ini.
Ida Bagus Partama juga menjelaskan,waktu yang benar mencabut dan memprelina Penjor Galungan adalah setelah kita menghaturkan Banten pada Hari Buda Kliwon Pahang,atau Buda Kliwon Pegat Wakan.Sedangkan penjor yang patah (rusak) sebelum hari tersebut bisa langsung diprelina,tidak usah diganti lagi.
Terakhir pesannya,jaman sekarang semua serba berubah sesuai situasi dan kondisi,maka cukup sulit menyesuaikan agar sama persis dengan sastra.Antara nawang ( tahu),bisa,dadi,patut dan pantes sudah campuh (berbaur).Namun yang terpenting bagaimana cara kita untuk tetap bisa mengajegkan dan mempertahankan budaya dan agama agar tidak terkikis dimakan beradaban modern.(Brt)
- Penulis: admin



Saat ini belum ada komentar