Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tak Berkategori » Memuliakan Geguritan Sucita: Menghidupkan Kembali Cahaya Susastra Leluhur di Tanah Banjar

Memuliakan Geguritan Sucita: Menghidupkan Kembali Cahaya Susastra Leluhur di Tanah Banjar

  • account_circle admin
  • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
  • visibility 4
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BALI | Matakompas.com – Desa Adat Banjar di Buleleng kembali menunjukkan jati dirinya sebagai salah satu pusat lahir dan tumbuhnya susastra Bali yang agung. Upaya pelestarian seni dan budaya tak lagi sekadar seremonial, tetapi bergerak menjadi gerakan kultural yang lahir dari kesadaran kolektif warganya. Terbaru, geliat memuliakan Geguritan Sucita salah satu karya sastra monumental warisan sang pujangga Ida Ketut Djelantik menjadi bukti bahwa kesadaran spiritual dan kebudayaan masih hidup kuat di tanah kelahirannya.

Tetembangan, Roh Upacara, dan Identitas Budaya

Banjar sejak dulu dikenal sebagai tanah subur bagi berkembangnya seni tetembangan seperti kekidungan, kakawin yadnya, hingga berbagai bentuk pesantian. Tradisi ini bukan sekadar hiburan, tetapi bagian tak terpisahkan dari ajaran agama Hindu. Di setiap upacara, tetembangan menjadi napas spiritual yang menghubungkan umat dengan nilai-nilai tattwa, susila, dan upacara.

Seni geguritan pun hidup kuat di Banjar. Bahkan, salah satu pujangga besar Bali, Ida Ketut Djelantik, adalah pengawi Geguritan Sucita karya yang kini namanya menggema bukan hanya di Buleleng, tetapi di desa-desa transmigrasi Bali di luar pulau. Bendesa Adat Banjar, Ida Bagus Kosala, yang merupakan cucu sang pujangga, menegaskan bahwa di daerah transmigrasi, geguritan ini bahkan menjadi kegiatan utama pesantian masyarakat. Hal itu ia saksikan sendiri ketika bertugas di lingkungan Transmigrasi tahun-tahun lalu.

Geguritan Sucita: Karya Agung Sepanjang Zaman

Geguritan Sucita bukan sekadar karya sastra, tetapi sebuah pewahyuan. Karya ini memuat 1.877 bait, terbagi ke dalam 11 tembang dan 57 pupuh, dengan tembang “Sinom” sebagai yang paling dominan. Pesan moralnya sangat kuat: cara berperilaku, berkata-kata, menjaga pikiran, dan memahami derita hidup yang identik dengan perjalanan manusia modern.

Nilai-nilai di dalamnya tak lekang digerus zaman. Justru semakin relevan saat generasi kini menghadapi tantangan moral, spiritual, dan sosial. Tidak berlebihan jika banyak tokoh menyebut Ida Ketut Djelantik sebagai pujangga dengan wijnana, kebijaksanaan yang lahir dari kedalaman spiritual.

Selain Geguritan Sucita, beliau juga menulis karya-karya penting seperti Aji Sangkya, Geguritan Lokika, Satua Men Tingkes, Geguritan Gonika, Geguritan Bhagawadgita, hingga terjemahan Sarasamuscaya dan Wrespati Tattwa. Warisan intelektual ini menjadikan Banjar sebagai salah satu pusat lahirnya pemikiran keagamaan Hindu Bali.

Satria, Generasi Muda yang Menggerakkan Kembali Api Susastra

Di balik gerakan memuliakan Geguritan Sucita hari ini, ada sosok muda yang konsisten bergerak senyap namun berdampak: I Kadek Satria, S.Ag., M.Pd.H., Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Buleleng. Sejak bertugas tahun 2024, ia menggagas berbagai kegiatan intelektual dan keagamaan, seperti:

* KEDASIH Bali Utara (Kelompok Diskusi Asyik Intelektual Hindu),
* diskusi agama dan budaya bekerjasama dengan Peradah, KMHDI, Prajaniti, organisasi pemuda, dan pelajar,
* pembinaan dharmagita, dharmawacana, dharmatula, hingga dharmasadhana,
* kegiatan rutin setiap Tilem di Wantilan Pura Agung Jagatnatha.

Kecintaannya pada susastra lahir sejak lama. Tahun 2017, ia pernah membaca “Geguritan Jayaprana” sehari penuh di Pasraman Pasir Ukir. Ia juga membentuk kelompok pesantian yang bertahan hingga kini. Puncaknya, ia berhasil menulis “Geguritan Kerthala”, sebuah karya tetembangan yang telah mengantongi HAKI.

Memuliakan Sucita di Tanah Kelahirannya

Pada 8 Desember 2025, Satria menggagas pembacaan perdana “Geguritan Sucita” yang akan dilakukan rutin setiap bulan purnama di Wantilan Pura Dalem Desa Adat Banjar. Gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa karya agung yang lahir di Banjar, wajib dimuliakan terlebih dahulu oleh masyarakat Banjar sendiri.

“Jika bukan kita yang memuliakan karya ini, apakah kita hanya menjadi penonton ketika daerah lain melakukannya?” demikian seruan tokoh-tokoh adat Banjar.

Antusiasme masyarakat sangat besar. Sedikitnya 50 peserta pesantian hadir pada pembukaan: membaca, meneges (menafsir), dan mendiskusikan bait-bait suci Sucita. Di antaranya Jero Made Redita, Ida Kade Subiksa, Ide Kade Arika, Ida Mangku Putu Jelantik, Gst Made Parmi, Gst Putu Arta, hingga A.A. Agung Widnyani. Semua berharap kegiatan ini menjadi wadah berkelanjutan untuk “neduhang jagate antuk susastra mautama” menyejukkan dunia melalui karya sastra suci.

Pelestarian Susastra adalah Pelestarian Jati Diri

Dalam pandangan Satria, Geguritan Sucita adalah sarana pendidikan moral, kesehatan batin, dan pembentukan karakter. Membacanya adalah ibadah, mendiskusikannya adalah dharma, dan memuliakannya adalah wujud bhakti kepada leluhur.

“Lahir di Banjar, maka Banjar-lah yang harus pertama memuliakan karya suci ini,” tegasnya.

Upaya memuliakan Sucita bukan hanya kerja budaya, tetapi sebuah gerakan spiritual, intelektual, dan identitas. Di tengah derasnya arus modernisasi, Desa Adat Banjar mengirim pesan penting: bahwa masa depan hanya bisa dibangun jika kita tidak memutus hubungan dengan akar budaya.

Geguritan Sucita bukan hanya sastra, bukan hanya tembang. Ia adalah cahaya leluhur yang telah kembali menyala di tanah kelahirannya. Dan kini, generasi muda bersama para tetua adat tengah memastikan api itu tidak padam melainkan terus hidup, menerangi Buleleng, Bali, dan jagat raya. (Tim)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gubernur Koster Serahkan Seragam Buat 503 Pecalang Buleleng Siapkan Insentif Rp50 Juta per Desa Adat

    Gubernur Koster Serahkan Seragam Buat 503 Pecalang Buleleng Siapkan Insentif Rp50 Juta per Desa Adat

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 2
    • 0Komentar

    BULELENG, Matakompas.com | Gubernur Bali Wayan Koster menyerahkan bantuan seragam kepada 503 pecalang dari 14 banjar adat di Desa Adat Buleleng, bertepatan dengan perayaan Tumpek Uye, Sabtu, 7 Pebruari 2026. Penyerahan dilakukan saat pertemuan bersama pecalang di Setra Desa Adat Buleleng sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian mereka yang ngayah tanpa pamrih. Bantuan seragam lengkap berupa […]

  • Dispora Ucapkan Selamat Kepada Irwan Alwi Jabat Ketum PP PBFI

    Dispora Ucapkan Selamat Kepada Irwan Alwi Jabat Ketum PP PBFI

    • calendar_month Kamis, 27 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 60
    • 0Komentar
  • BEM Fakultas Hukum Universitas Udayana Gelar Kegiatan Mahasiswa Peduli Lingkungan di Kawasan Pantai Jerman

    BEM Fakultas Hukum Universitas Udayana Gelar Kegiatan Mahasiswa Peduli Lingkungan di Kawasan Pantai Jerman

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Matakompas
    • visibility 4
    • 0Komentar

    DENPASAR, MataKompas.com – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Udayana (BEM FH UNUD) menyampaikan sikap resmi berupa aspirasi, keprihatinan mendalam, serta tuntutan terhadap kondisi lingkungan di kawasan Pantai Jerman, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, yang saat ini mengalami penumpukan sampah plastik dalam jumlah signifikan. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan serta berbagai informasi yang beredar di masyarakat, ditemukan […]

  • Dukung Ketahanan Pangan, Bhabinkamtibmas Mekar Sari Cek Kolam Bioflok Ikan Nila

    Dukung Ketahanan Pangan, Bhabinkamtibmas Mekar Sari Cek Kolam Bioflok Ikan Nila

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Riau
    • visibility 5
    • 0Komentar

    DUMAI, MATAKOMPAS. COM– Personil Bhabinkamtibmas Kelurahan Mekar Sari Polsek Dumai Barat, Aipda SG. Manalu, bersama pengelola kolam, Harisman Zai, melaksanakan kegiatan pengecekan Pekarangan Pangan Bergizi pada Minggu (7/6/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Kegiatan yang berlokasi di Jalan Arjuna RT 02, Kelurahan Mekar Sari, Kecamatan Dumai Selatan, Kota Dumai ini difokuskan pada pemantauan peternakan ikan nila […]

  • Bukan Sekadar Eksis, Tapi Prestasi: Dispora Bengkulu Ajak Pemuda Ubah Media Sosial Jadi Ladang InovasI

    Bukan Sekadar Eksis, Tapi Prestasi: Dispora Bengkulu Ajak Pemuda Ubah Media Sosial Jadi Ladang InovasI

    • calendar_month Jumat, 14 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 89
    • 0Komentar

    BENGKULU,Jarrakpos.com – Di era digital yang serba cepat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Namun, di balik kemudahan dan hiburan yang ditawarkan, terdapat tantangan yang perlu diwaspadai. Kabid Pengembangan Pemuda Dispora Provinsi Bengkulu, Samsir, mengajak pemuda untuk menjadi “maestro” media sosial, bukan sekadar pengguna pasif. “Media sosial itu seperti […]

  • Putu Eka Dorong Evaluasi Layanan RSUD Tabanan Keluhan Tenaga Medis harus Disikapi Jernih dan Transparan

    Putu Eka Dorong Evaluasi Layanan RSUD Tabanan Keluhan Tenaga Medis harus Disikapi Jernih dan Transparan

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 0
    • 0Komentar

    TABANAN, Matakompas.com – Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Tabanan, I Putu Eka Putra Nurcahyadi, mengajak semua pihak merespons jernih dan transparan keluhan tenaga medis RSUD Tabanan Bali. Ia mendorong evaluasi menyeluruh layanan kesehatan yang berhubungan dengan kebutuhan mendasar warga. “Pelayanan kesehatan adalah kebutuhan mendasar masyarakat. Karena itu setiap informasi terkait pelayanan di rumah sakit […]

expand_less