Ratusan Umat Hadiri Pengecoran Rupang Buddha Nusantara di Vihāra Buddha Sakyamuni Denpasar
- account_circle admin
- calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR | Sangha Theravāda Indonesia (STI) mempersiapkan berbagai program istimewa untuk menyambut perayaan 50 tahun atau Tahun Kencana pada 2026.
Salah satu kegiatan utama adalah pengecoran Rupang Buddha Nusantara setinggi lima meter yang melibatkan umat Buddha dari berbagai wilayah di Indonesia.
Prototipe rupang tersebut terinspirasi dari arca Buddha yang ditemukan di Candi Sewu, kompleks candi Buddhis terbesar kedua di Jawa Tengah setelah Borobudur.
Pembuatan rupang ini juga mengandung nilai spiritual mendalam bagi umat Buddha.
Ketua Panitia Nasional Tahun Kencana Sangha Theravāda Indonesia (STI) Bhante Atthadhīro Thera menjelaskan bahwa prototipe rupang menggunakan Bhumisparsa Mudrā atau sikap tangan menyentuh bumi yang identik dengan Buddha Akşobhya.
“Hal itu menjadi pengingatan tentang kebajikan itu, meski tidak ada melihat dan tidak ada yang mencatat, tetapi bumi menjadi saksi dari kebajikan itu,” kata Bhante Atthadhīro Thera.
Bhante Atthadhīro Thera menjelaskan bahwa mudra tersebut melambangkan bumi sebagai saksi atas kesempurnaan kebajikan (pārami) yang telah dikumpulkan oleh Petapa Gotama dalam berbagai kehidupan sebelumnya hingga mencapai Pencerahan Sempurna atau Sammāsambuddha.
Proses artistik rupang dikerjakan oleh seniman Sugito Sutarmin dari Amertha Art Studio. Upacara pengecoran dilakukan secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia sebagai representasi Nusantara.
Rangkaian pengecoran dimulai di Pulau Sumatra yang dipusatkan di Kota Medan tepatnya di Vihāra Mahāsampatti. Selanjutnya, dilakukan di Pulau Kalimantan di Kota Samarinda, tepatnya di Vihāra Muladharma.
Untuk wilayah Bali, prosesi pengecoran dilaksanakan di Vihāra Buddha Sakyamuni, Denpasar, Minggu, 8 Maret 2026.
Kegiatan berikutnya akan digelar di Pulau Sulawesi di Kota Palu, Pulau Jawa di Kota Surabaya, dan ditutup di DKI Jakarta di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya.
Bhante Atthadhīro Thera mengatakan kegiatan ini menjadi simbol persatuan umat Buddha dalam memperingati setengah abad pengabdian Sangha Theravāda Indonesia. Seluruh logam yang digunakan berasal dari donasi umat Buddha sebagai bentuk persembahan atau dāna.
Bhante Atthadhīro Thera menambahkan bahwa Buddha Rupang Nusantara dibuat di berbagai wilayah agar umat Buddha di seluruh Nusantara memiliki kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam menanam kebajikan.
“Apakah itu berdana atau meditasi hingga belajar Suta-Suta dalam rangka mengembangkan kebijaksanaan. Segala kebajikan ini, selain berguna buat umat Buddha, tentunya didedikasikan. Semoga bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) senantiasa hidup makmur, damai dan sejahtera, karena kebahagiaan ini buat semuanya. Kita memiliki slogan, yakni usaha-usaha mereka yang bersatu adalah sebab dari kebahagiaan,” kata Bhante Atthadhīro Thera.
Rupang Buddha Nusantara yang telah selesai nantinya akan ditempatkan di Vihāra Bhumi Dhamma Nusantara di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.
Di Bali sendiri, Upacara Pengecoran Ketiga bagian Rupang Buddha Nusantara dipusatkan di Vihāra Buddha Sakyamuni Denpasar pada Minggu, 8 Maret 2026.
Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan perayaan Māghapūjā 2569 TB/2026.
Upacara tersebut dihadiri sekitar 50 bhikkhu anggota Sangha serta umat Buddha dari berbagai daerah di Bali dan luar kota.
Perayaan Māghapūjā merupakan hari besar umat Buddha untuk mengenang peristiwa agung Caturāńgasannipäta. Peristiwa ini menjadi momen penting karena ditetapkannya Ovāda Patimokkha oleh Sang Buddha sebagai prinsip dasar ajaran para Buddha.
Prinsip tersebut mengajarkan untuk tidak berbuat jahat, menambah kebajikan, serta menyucikan pikiran sebagai pedoman hidup dalam mewujudkan kedamaian.
“Kegiatan itu masih terus berlangsung hingga nanti sampai Puncak Acara, yakni pada 13 Desember 2026, tepatnya di IBSD Kota Tangerang Selatan,” kata Bhante Atthadhīro Thera.
Bhante Atthadhīro Thera menjelaskan bahwa proses pengecoran rupang masih berlanjut hingga pertengahan tahun.
“Jadi, sekarang di wilayah-wilayah ini adalah bagian-bagian tubuh, yakni ada lengan dan badan, termasuk juga kaki, tapi nanti yang paling terakhir adalah Mustaka atau kepala. Itu nanti menjadi Puncak Acara Pengecoran di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, pada 21 Juni 2026,” kata Bhante Atthadhīro Thera.
Sebagai penutup, Bhante Atthadhīro Thera menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan umat Buddha di seluruh Nusantara.
“Karena ini diselenggarakan di berbagai wilayah yang ada di Nusantara. Semoga kita semuanya hidup damai, tentram dan bahagia. Tali persaudaraan selalu menyertai kita semua. Semoga semuanya hidup berbahagia,” pungkasnya. (red).
- Penulis: admin



Saat ini belum ada komentar