Breaking News
light_mode
Trending Tags

Soko Guru Gelar Pameran Tutur Ayu di Griya Santrian Art Gallery, Seni Jadi Media Wariskan Nilai

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
  • visibility 16
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR, Matakompas.com | Kelompok seniman sekaligus pendidik yang tergabung dalam Kelompok Soko Guru menggelar pameran seni lukis bertajuk “Tutur Ayu” di Griya Santrian Art Gallery, Sanur, Denpasar, Jumat, 6 Maret 2026.

 Pameran yang dibuka pada Jumat, 6 Maret 2026 ini menampilkan sebanyak 18 karya lukisan dari tiga perupa Bali yang juga dikenal sebagai guru seni.

Pengelola Griya Santrian Art Gallery, Dollar Astawa menegaskan pameran tersebut menghadirkan karya-karya dari I Ketut Marra, I Wayan Santrayana, dan I Gede Budiartha.

Ketiganya merupakan seniman yang telah memasuki masa purna tugas sebagai pendidik, namun tetap aktif berkarya melalui dunia seni rupa.

Penulis I Made Susanta Dwitanaya menyatakan pameran ini dibuka oleh Ibu Putri Suastini Koster dan akan berlangsung cukup lama, yakni mulai 6 Maret hingga 30 April 2026.

Menurutnya, pameran ini lahir dari perjalanan panjang pengabdian para seniman yang selama ini tidak hanya berkarya, tetapi juga menanamkan nilai-nilai pengetahuan kepada generasi muda.

Menurutnya, dalam perjalanan panjang pengabdian, ada jejak-jejak sunyi yang tak pernah benar-benar selesai dituliskan. Ada jejak yang terus hidup melalui karya, melalui nilai, dan melalui ketulusan berbagi pengetahuan.

Sembari menghayati keyakinan bahwa guru yang baik adalah pelaku yang baik, tiga orang seniman sekaligus pendidik yang tergabung dalam kelompok Soko Guru menggelar pameran bersama di Santrian Gallery.

Pameran ini menampilkan karya-karya I Ketut Marra, I Wayan Santrayana dan I Gede Budiartha, para guru yang telah memasuki masa pensiun.

Meski telah menuntaskan pengabdian dalam institusi formal pendidikan, semangat mereka sebagai pendidik tetap terjaga. Seni menjadi medium untuk terus mentransformasikan nilai kehidupan kepada masyarakat luas.

Sesuai dengan makna Soko Guru sebagai tiang penyangga utama, istilah ini melambangkan peran guru sebagai fondasi pengetahuan: penutur nilai, penjaga rasa, sekaligus pengemban kebijaksanaan melalui karya seni.

“Soko Guru menjadi wadah bersama bagi ketiga seniman ini dalam pengabdian, menjaga nilai pengetahuan dan kebijaksanaan yang berakar kuat pada budaya,” terangnya.

Judul pameran Tutur Ayu dipilih sebagai simbol bahwa seni merupakan bahasa yang tidak pernah berhenti menyampaikan pesan. Seni tetap hidup dan terus berbicara, bahkan ketika seorang guru telah pensiun dari ruang kelas.

“Tutur Ayu bermakna bahwa setiap karya yang dihadirkan berupaya membawa pesan dan petuah sarat moralitas serta kebijaksanaan bagi generasi hari ini,” paparnya.

Dalam pameran ini, masing-masing seniman menghadirkan karakter karya yang berbeda.

I Ketut Marra dikenal konsisten mengolah berbagai medium seni, mulai dari seni lukis hingga seni grafis yang dahulu dikenal sebagai reklame. Karya-karyanya memperlihatkan kematangan artistik dengan eksplorasi garis, warna, tekstur, serta komposisi yang kuat.

Tema-tema yang diangkat banyak merepresentasikan alam dan budaya Bali. Namun karya tersebut tidak sekadar menyalin realitas, melainkan menghadirkan aura estetik sekaligus refleksi kritis terhadap kehidupan sosial budaya.

Sementara itu, I Wayan Santrayana menampilkan karakter karya dengan figur dan objek yang deformatis. Gaya ini menjadi bahasa visual yang khas dalam menggambarkan dinamika sosial dan budaya masyarakat Bali.

Melalui deformasi bentuk, ia menghadirkan ekspresi yang kuat sekaligus menyampaikan pesan kritis mengenai hubungan manusia dengan alam, perubahan sosial budaya, hingga spiritualitas.

Sedangkan I Gede Budiartha lebih menonjolkan kecenderungan abstraksi dalam karya-karyanya. Komposisi warna, gestur garis, serta ekspresi visual menjadi kekuatan utama dalam lukisannya.

Meski tampak abstrak, karya Budiartha tetap menyimpan representasi objek yang dapat dikenali. Melalui pendekatan tersebut, ia mengangkat tema-tema tentang rasa dan dinamika kehidupan manusia.

Melalui karya-karyanya, Budiartha menghadirkan tema-tema yang dalam, menyoal soal rasa dan berbagai dinamikanya. Rasa sebagai sebuah kualitas yang menandai kemanusiaan kita selain pikiran dan jiwa.

Karya-karya yang dipamerkan dalam Tutur Ayu tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat sebagai pewaris kebudayaan Bali yang terus berkembang mengikuti zaman.

Ditengah arus perubahan, Tutur Ayu menjadi pengingat bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kebisingan, melainkan dari ketekunan merawat nilai.

“Melalui pameran ini pula kita dapat melihat bagaimana semangat dan gairah ketiga seniman ini dalam menjalankan kehidupannya sebagai seorang perupa yang berlatar belakang sebagai pendidik. Kesadaran padaswa darma atau kewajiban mendidik mereka sadari tak hanya berhenti semasa menjalankan tugas di institusi,” urainya.

Kini memasuki masa pensiun, ketiganya tetap menjalankan swadarma sebagai guru bagi masyarakat. Bukan lagi di ruang kelas, tetapi melalui karya-karya seni yang terus lahir dari pengalaman batin yang semakin matang dan bijaksana. (red).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sulut Emosi Pendemo, Presiden Diminta Copot Kapolri

    Sulut Emosi Pendemo, Presiden Diminta Copot Kapolri

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 249
    • 0Komentar

    Jarrakpos.com Jakarta – Matahukum menyebut pristiwa pengamanan demo di depan gedung DPR RI yang dilakukan olen oknum Personil Brimob dengan menabrak dan melindas justru semakin menyulut kemarahan publik. Apalagi, mereka sebagai aparat penegak hukum yang seharusnya mengamankan, bukan menciptakan kekerasan kepada masyarakat sipil. “Kapolri Jendral Listiyo Sigit Prabowo jelas gagal dalam memberikan pengamanan demo. Dalam […]

  • Ketua Fraksi PDIP Tabanan Eka Nurcahyadi: Kuota Perempuan Tak Boleh Lagi Sekadar Formalitas

    Ketua Fraksi PDIP Tabanan Eka Nurcahyadi: Kuota Perempuan Tak Boleh Lagi Sekadar Formalitas

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 18
    • 0Komentar

    TABANAN – Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mempertegas sanksi bagi partai politik yang tidak memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan dalam daftar calon legislatif (caleg) dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat kualitas demokrasi dan mendorong kesetaraan politik yang lebih substantif di Indonesia. Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Tabanan, I Putu Eka Putra Nurcahyadi, menyambut […]

  • Pariwisata Bali di Persimpangan: DPRD Kompak Dorong Kualitas, Fraksi-Fraksi ‘Adu Gagasan’ Soal Regulasi dan Pajak

    Pariwisata Bali di Persimpangan: DPRD Kompak Dorong Kualitas, Fraksi-Fraksi ‘Adu Gagasan’ Soal Regulasi dan Pajak

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 12
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com — Masa depan pariwisata Bali kembali menjadi panggung perdebatan strategis dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi Bali, Selasa (14/4/2026). Di balik kesepahaman untuk melanjutkan pembahasan dua Rancangan Peraturan Daerah (Raperda), dinamika pemikiran antar fraksi justru memperkaya arah kebijakan yang akan menentukan wajah Bali ke depan. Rapat yang dipimpin Wakil Ketua I DPRD Bali, I […]

  • Polemik Penjor Galungan dan Kabel PLN, DPRD Bali Geram: “Bukan Penjor yang Harus Menyesuaikan”

    Polemik Penjor Galungan dan Kabel PLN, DPRD Bali Geram: “Bukan Penjor yang Harus Menyesuaikan”

    • calendar_month Senin, 17 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 16
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com | Polemik terkait imbauan PLN mengenai jarak minimal pemasangan penjor dari kabel listrik kembali memicu reaksi keras dari masyarakat Bali. Sekretaris Komisi I DPRD Provinsi Bali, I Nyoman Oka Antara, menjadi salah satu pihak yang dengan tegas menolak kebijakan tersebut. Menurutnya, aturan ini bukan sekadar urusan teknis, tetapi menyentuh langsung jantung kebudayaan Hindu […]

  • Imigrasi Ngurah Rai dan Polri Amankan Bos Sindikat Narkotika Eropa, Buronan Interpol Ditangkap di Bali

    Imigrasi Ngurah Rai dan Polri Amankan Bos Sindikat Narkotika Eropa, Buronan Interpol Ditangkap di Bali

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 15
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com — Sinergi antara Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Imigrasi kembali menunjukkan hasil nyata. Seorang buronan internasional yang masuk daftar Red Notice Interpol berhasil diamankan di Bali saat baru menginjakkan kaki di Indonesia. Penangkapan dilakukan terhadap Steven Lyons (46), warga negara Inggris asal Glasgow, pada Sabtu, 28 Maret 2026 sekitar pukul 11.58 WITA […]

  • Kajian Asyik di Bulan Ramadhan, Dispora Bengkulu Dorong Pemuda Lebih Aktif

    Kajian Asyik di Bulan Ramadhan, Dispora Bengkulu Dorong Pemuda Lebih Aktif

    • calendar_month Selasa, 11 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 78
    • 0Komentar

    BENGKULU,Jarrakpos.com – Bulan Ramadhan identik dengan peningkatan ibadah dan kajian keagamaan. Menariknya, tren kajian di kalangan pemuda Bengkulu kini semakin berkembang dengan konsep yang lebih santai dan kekinian, seperti diskusi di kafe, kajian outdoor, hingga tema yang relate dengan kehidupan anak muda. Kepala Bidang Pembudayaan Pemuda Dispora Bengkulu, Indra Jaya Syam, S.Sos, mengapresiasi tren positif […]

expand_less