50 Bhikkhu Lintas Negara Jalan Kaki 500 Km dari Bali ke Borobudur, Gaungkan Damai Dunia di Waisak 2026
- account_circle admin
- calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR — Semangat perdamaian lintas batas kembali menggema dari Indonesia. Menyambut perayaan Waisak 2026, sebanyak 50 bhikkhu dari Indonesia, Thailand, Laos, dan Malaysia akan ambil bagian dalam kegiatan spiritual internasional Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026, sebuah perjalanan panjang penuh makna yang dimulai dari Bali menuju Candi Borobudur.
Tak sekadar ritual keagamaan, IWFP 2026 menjadi simbol kuat persatuan, welas asih, dan harmoni antarumat manusia. Para bhikkhu yang terlibat memiliki latar belakang usia beragam, mulai dari 23 hingga 67 tahun—menegaskan bahwa semangat damai melampaui batas generasi.
Ketua Umum Panitia, Dr. Tosin S.H., M.H., menyatakan kegiatan ini membawa pesan universal yang relevan bagi dunia saat ini.
“Kegiatan ini bertujuan menyebarkan nilai perdamaian, cinta kasih, dan persaudaraan. Kehadiran para bhikkhu diharapkan memberi inspirasi dan kekuatan spiritual bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Dari Bali untuk Dunia
Koordinator IWFP 2026 Wilayah Bali, Romo Sudiarta Indrajaya, menegaskan bahwa perjalanan ini bukan sekadar agenda keagamaan, melainkan momentum kebangsaan.
“Ini bukan hanya momen agama, ini momen Indonesia. Dari Bali, pesan damai akan disuarakan untuk dunia,” katanya di Denpasar, Rabu (6/5/2026).
Perjalanan spiritual ini akan menempuh jarak sekitar 500 kilometer selama 21 hari, melintasi berbagai daerah hingga mencapai puncaknya pada 28 Mei 2026 di kawasan suci Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Sewu. Rangkaian tersebut menjadi simbol kuat keterhubungan sejarah, budaya, dan spiritualitas Nusantara.
Romo Sudiarta juga menyinggung akar toleransi yang telah lama hidup di Bali, salah satunya tercermin di Pura Gamberang Layang, Buleleng—tempat pemujaan lintas simbol, termasuk figur Ratu Dalam Makkah yang merepresentasikan hubungan spiritual dengan umat Muslim.
“Sejak ratusan tahun lalu, Bali sudah menunjukkan harmoni lintas keyakinan. Nilai ini yang ingin kita hidupkan kembali,” ujarnya.
Pengamanan Kolaboratif, Simbol Kebersamaan
Dukungan penuh datang dari berbagai elemen masyarakat, termasuk pecalang, Banser, serta aparat keamanan negara. Manggala Utama Pecalang Bali, Dewa Bagus Made Suharya, menegaskan kesiapan pihaknya mengawal perjalanan para bhikkhu dari titik awal hingga Pelabuhan Gilimanuk.
“Ini kebanggaan bagi Bali. Dari sinilah pesan damai dunia dimulai. Kami mengajak masyarakat untuk ikut menghormati perjalanan para bhikkhu, bahkan dengan hal sederhana seperti menyediakan air di sepanjang rute,” ungkapnya.
Dengan lebih dari 1.500 desa adat di Bali, keterlibatan pecalang menjadi kekuatan sosial yang signifikan dalam menjaga kelancaran kegiatan ini.
Hal senada disampaikan Ketua PW GP Ansor Bali, H. Tommy Reza Kurniawan. Ia menegaskan Banser akan turut mendukung sebagai wujud nyata toleransi dan kebersamaan lintas komunitas.
“Kami merasa terhormat bisa berjalan bersama pecalang. Ini bukan sekadar pengamanan, tetapi simbol persatuan masyarakat Bali,” ujarnya.
Pariwisata dan Spirit Perdamaian
IWFP 2026 juga dinilai memiliki dampak strategis bagi citra pariwisata Indonesia. Ketua DPW Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali periode 2025–2029, Agus Maha Usadha, menyebut kegiatan ini selaras dengan kebutuhan industri pariwisata global yang kini mengedepankan ketenangan dan keberlanjutan.
“Bali sebagai titik awal menunjukkan bahwa pariwisata tidak hanya soal destinasi, tetapi juga nilai. Spirit of peace dari Bali diharapkan menjadi cahaya bagi dunia,” katanya.
Momentum Global dari Nusantara
Dijadwalkan berlangsung mulai 7 Mei hingga 5 Juni 2026, IWFP diharapkan menjadi magnet wisata religi internasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat harmoni dunia.
Di tengah dunia yang kerap diliputi konflik dan ketegangan, langkah kaki para bhikkhu ini menjadi pesan sunyi namun kuat: bahwa perdamaian bisa dimulai dari perjalanan sederhana—dari Bali, untuk Indonesia, dan untuk dunia.
Sejumlah undangan penting dari berbagai unsur pemerintahan, tokoh agama, hingga organisasi keagamaan turut dijadwalkan hadir dalam rangkaian seremoni pembukaan Indonesia Walk For Peace 2026. Dari jajaran pemerintah pusat, hadir Wakil Menteri Agama RI Muhammad Syaifi serta Dirjen Bimas Buddha Kemenag RI Drs. Supriyadi, M.Pd.
Sementara dari pemerintah daerah, undangan meliputi Gubernur Bali Dr. Ir. Wayan Koster, M.M. dan Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG yang memberikan dukungan langsung terhadap kegiatan ini.
Dari unsur tokoh dan organisasi keagamaan, turut diundang Bhante Dhamavudho, Dr. Tosin, S.H., M.H., Romo I. B. Rahoela, Romo Sudiarta Indrajaya, Romo Wawan, Romo Irwan Pontoh, serta Romo Alex. Selain itu, perwakilan organisasi keagamaan nasional juga hadir, seperti Walubi yang diwakili DR. (H.C.) Dra. S. Hartati Murdaya dan Permabudhi oleh Prof. Dr. Philip K. Widjaja.
Kehadiran para undangan ini menjadi simbol kuat dukungan lintas sektor dalam menyukseskan misi perdamaian yang diusung Indonesia Walk For Peace 2026.
- Penulis: admin



Saat ini belum ada komentar