TRIHITA Resmi Diluncurkan, Bali Bangkit! Desa Adat Kini Bersiap Kuasai Transportasi dan Ekonomi Digital
- account_circle admin
- calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TABANAN, Matakompas.com – Bali memasuki babak baru. Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi aplikasi digital dari luar daerah, sebuah gerakan besar lahir dari akar budaya Pulau Dewata. Bertempat di Wantilan Desa Adat Beraban, Tabanan, Sabtu (16/5/2026), aplikasi TRIHITA resmi diluncurkan sebagai simbol kebangkitan desa adat dalam membangun kedaulatan ekonomi dan transportasi berbasis masyarakat lokal.
TRIHITA yang merupakan singkatan dari Transportasi Hijau Terintegrasi Berbasis Desa Adat tidak sekadar hadir sebagai aplikasi transportasi online biasa. Gerakan ini membawa misi besar: menjadikan masyarakat Bali sebagai tuan rumah di tanahnya sendiri, sekaligus memastikan perputaran ekonomi pariwisata kembali mengalir ke desa adat dan krama Bali.
Peluncuran tersebut menjadi tindak lanjut dari pertemuan strategis antara Gubernur Bali bersama desa adat di Gedung Kertha Sabha, Jayasabha, pada Maret 2026 lalu. Dalam pertemuan itu, muncul gagasan bahwa Bali membutuhkan sistem transportasi modern yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga berpihak kepada masyarakat lokal dan menjaga nilai budaya Bali.
Meski Gubernur Bali tidak dapat hadir secara langsung, peluncuran tetap berlangsung penuh semangat dengan kehadiran Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali I Made Mudarta, Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali I G.A.K. Kartika Jaya Seputra, serta jajaran Dinas Perhubungan Denpasar dan Badung. Puluhan bendesa adat dari berbagai wilayah Bali turut hadir sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan ekonomi berbasis desa adat tersebut.
Suasana Wantilan Desa Adat Beraban tampak hidup sejak pagi. Tokoh masyarakat, pelaku transportasi, pengurus desa adat hingga generasi muda Bali memenuhi lokasi acara dengan antusiasme tinggi. Mereka melihat TRIHITA bukan sekadar inovasi digital, melainkan perjuangan besar untuk menjaga Bali agar tidak sepenuhnya dikuasai kepentingan luar.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Denpasar, I Ketut Sriawan, bahkan menyebut lahirnya TRIHITA berasal dari kegelisahan melihat kondisi transportasi dan pariwisata Bali saat ini. Menurutnya, selama ini banyak sistem transportasi digital berkembang pesat, namun belum sepenuhnya memberikan manfaat nyata kepada desa adat sebagai penjaga utama budaya dan keseimbangan Bali.
TRIHITA hadir membawa konsep berbeda. Sistem ini dirancang agar keuntungan ekonomi tidak hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi juga kembali ke masyarakat lokal melalui desa adat dan koperasi. Para pengemudi diharapkan memperoleh penghasilan yang lebih adil, sementara desa adat dapat memiliki sumber pendapatan baru untuk mendukung kegiatan adat, upacara keagamaan, dan pelestarian budaya Bali.
Lebih jauh lagi, aplikasi ini diproyeksikan berkembang menjadi super app Bali yang mencakup layanan transportasi, kuliner, hotel, hingga layanan wisata lainnya. Konsep tersebut sejalan dengan visi TRIHITA sebagai platform digital yang dibangun dari Bali, oleh masyarakat Bali, dan untuk kepentingan Bali.
Nama TRIHITA sendiri diambil dari filosofi luhur Tri Hita Karana, ajaran hidup masyarakat Bali yang menekankan harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan. Filosofi inilah yang menjadi fondasi gerakan transportasi hijau berbasis desa adat tersebut.
Peluncuran TRIHITA kini menjadi pesan kuat bahwa Bali tidak ingin hanya menjadi pasar di rumah sendiri. Desa adat mulai bergerak mengambil peran strategis dalam era digital dan ekonomi modern, dengan semangat menjaga budaya sekaligus membangun kesejahteraan masyarakat lokal.
Di tengah perubahan zaman, Bali tampaknya sedang menegaskan satu hal penting: modernisasi boleh berkembang, tetapi tanah Bali harus tetap memberi manfaat utama bagi rakyat Bali sendiri.
- Penulis: admin



Saat ini belum ada komentar