Erupsi Gunung Anak Krakatau Berdampak ke Penerbangan, Imigrasi Ngurah Rai Tetap Siaga
- account_circle admin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BADUNG — Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Provinsi Lampung mulai berimbas terhadap operasional penerbangan di sejumlah wilayah. Namun, kondisi tersebut sejauh ini belum mengganggu pelayanan dan pemeriksaan keimigrasian di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.
Hingga Minggu (6/9/2026) siang, aktivitas pemeriksaan keimigrasian di Terminal Kedatangan maupun Terminal Keberangkatan Internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai masih berjalan normal, aman, dan kondusif.
Kantor Imigrasi Ngurah Rai memastikan belum terdapat gangguan operasional yang berdampak langsung terhadap pelayanan pemeriksaan keimigrasian akibat kondisi kahar tersebut.
Meski demikian, dampak erupsi telah memengaruhi salah satu penerbangan internasional dari dan menuju Bali. Penerbangan Citilink QG500 dengan rute Denpasar (DPS)–Dili (DIL) yang membawa 94 penumpang harus dibatalkan.
Pembatalan terjadi karena pesawat yang sedianya mengoperasikan penerbangan tersebut tidak dapat berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kondisi ini langsung mendapat perhatian dari jajaran Imigrasi Ngurah Rai. Untuk memastikan tidak terjadi persoalan administrasi keimigrasian akibat pembatalan penerbangan di luar kendali penumpang, petugas melakukan penyesuaian data perlintasan terhadap seluruh 94 penumpang pada aplikasi perlintasan keimigrasian.
Selain itu, petugas juga melakukan pemeriksaan terhadap status izin tinggal para penumpang terdampak.
Hasilnya, hingga laporan tersebut dibuat, tidak ditemukan adanya penumpang yang mengalami overstay akibat pembatalan penerbangan tersebut.
Kepala Kantor Imigrasi Ngurah Rai, Muhamad Novyandri, menegaskan bahwa kepastian pelayanan keimigrasian tetap menjadi prioritas, terutama ketika terjadi kondisi luar biasa yang berdampak terhadap mobilitas penumpang internasional.
“Kami memahami situasi ini berpotensi menimbulkan kekhawatiran, khususnya bagi penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan. Oleh karena itu, kami langsung melakukan penyesuaian, agar tidak ada penumpang yang dirugikan secara administratif akibat kondisi yang berada di luar kendali mereka,” ujar Novyandri.
Imigrasi Ngurah Rai juga meningkatkan pemantauan terhadap seluruh penerbangan internasional yang masuk dan keluar melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai.
Monitoring dilakukan terhadap potensi keterlambatan penerbangan atau delay, pembatalan (cancelled), hingga pengalihan penerbangan (diversion).
Berdasarkan konfirmasi terakhir dengan otoritas penerbangan, selain penerbangan Citilink QG500, operasional penerbangan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga saat ini belum terdampak secara langsung oleh kondisi tersebut.
Langkah antisipasi itu dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Direktorat Jenderal Imigrasi melalui Surat Nomor IMI.8-GR.09.06-045 tertanggal 2 September 2026 tentang Optimalisasi Pemeriksaan Imigrasi dalam Kondisi Kahar.
Surat tersebut menjadi pedoman bagi jajaran imigrasi untuk meningkatkan pemantauan terhadap aktivitas penerbangan internasional sekaligus kondisi operasional bandar udara ketika terjadi situasi di luar kondisi normal.
Kantor Imigrasi Ngurah Rai menyatakan akan terus melakukan monitoring secara berkelanjutan seiring perkembangan kondisi penerbangan.
Pelayanan pemeriksaan keimigrasian dipastikan tetap berjalan dengan mengedepankan keamanan, ketertiban, pelayanan, serta kepastian hukum bagi setiap pelintas internasional.
Dengan langkah tersebut, Imigrasi Ngurah Rai memastikan kondisi kahar akibat dampak erupsi tidak serta-merta menjadi persoalan administratif bagi penumpang yang terdampak pembatalan atau perubahan penerbangan.
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar