Dari BPI KPNPA RI ke STIJNAS, TB Rahmad Sukendar Bawa Misi Besar: Cetak Generasi Kritis, Berintegritas dan Berani Berpihak pada Fakta
- account_circle admin
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BEKASI – Perjalanan panjang TB Rahmad Sukendar, S.Sos., S.H., M.H., selama lebih dari dua dekade memimpin Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran Republik Indonesia (BPI KPNPA RI), memasuki babak baru.
Pengalaman 23 tahun berkecimpung dalam organisasi, penelitian, pembinaan kader, serta berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan kini dibawa ke ruang pendidikan melalui keterlibatannya sebagai Dewan Pembina Sekolah Tinggi Ilmu Jurnalistik Nasional (STIJNAS).
Momentum tersebut berlangsung di Kampus A STIJNAS, Kota Bekasi, bersamaan dengan penganugerahan gelar kehormatan Doctor Honoris Causa kepada TB Rahmad Sukendar. Penganugerahan secara simbolis diserahkan oleh Rektor STIJNAS, H. Qodiran, bersama Pimpinan Kampus STIJNAS, H. Dadang Budiman.
Gelar kehormatan di bidang penelitian tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas perjalanan panjang Rahmad Sukendar dalam menjalankan berbagai aktivitas penelitian, pembinaan kader, kegiatan sosial kemasyarakatan, serta kiprahnya yang bersentuhan dengan kepentingan publik.
Namun, bagi Rahmad, gelar kehormatan bukanlah garis akhir. Sebaliknya, penghargaan tersebut dipandang sebagai amanah sekaligus tanggung jawab moral untuk memperluas kontribusi kepada masyarakat.
“Gelar ini bukan akhir dari perjuangan. Justru menjadi tanggung jawab untuk terus memberikan manfaat. Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang berpikir kritis, memiliki integritas dan berani memperjuangkan kebenaran berdasarkan fakta,” ujar Rahmad.
Jurnalisme di Era Digital Tak Cukup Sekadar Pandai Menulis
Rahmad melihat perubahan teknologi digital telah membawa tantangan besar bagi dunia jurnalistik.
Arus informasi bergerak begitu cepat. Dalam hitungan detik, sebuah informasi dapat tersebar luas dan membentuk opini publik. Persoalannya, tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar fakta yang kuat.
Kondisi tersebut, menurut Rahmad, membuat pendidikan jurnalistik memiliki tanggung jawab yang semakin besar.
Mahasiswa jurnalistik tidak cukup hanya dibekali kemampuan menulis berita. Mereka harus memiliki kemampuan melakukan riset, mengumpulkan data, melakukan konfirmasi, memverifikasi informasi, memahami konteks persoalan, serta menguji kebenaran sebelum sebuah informasi disampaikan kepada publik.
“Jangan sampai kecepatan mengalahkan ketepatan. Jurnalis harus menjadi bagian dari solusi, bukan justru menambah persoalan dengan informasi yang tidak terverifikasi,” tegasnya.
Menurutnya, jurnalis memiliki posisi strategis dalam membangun kualitas demokrasi dan mencerdaskan masyarakat. Karena itu, keberanian seorang jurnalis harus selalu berjalan beriringan dengan pengetahuan, etika dan tanggung jawab.
Kritik terhadap kebijakan publik, misalnya, harus dibangun berdasarkan data dan fakta. Begitu pula ketika menyampaikan persoalan masyarakat, jurnalis dituntut mampu menghadirkan informasi secara berimbang dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dari Kaderisasi ke Pendidikan: Investasi Membangun Manusia
Pengalaman Rahmad selama 23 tahun memimpin BPI KPNPA RI menjadi modal penting dalam memasuki dunia pendidikan.
Ia menyebut, selama perjalanan organisasi, proses pembinaan dan kaderisasi telah melahirkan banyak individu yang kemudian berkiprah di berbagai bidang.
Sebagian berkembang menjadi kepala daerah, anggota legislatif, pimpinan organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan, pengusaha, hingga berkarier di lingkungan TNI dan Polri.
Bagi Rahmad, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa membangun sumber daya manusia tidak dapat dilakukan secara instan.
“Kalau kita ingin membangun bangsa, kita harus membangun manusianya terlebih dahulu. Kaderisasi dan pendidikan adalah investasi jangka panjang,” katanya.
Pandangan tersebut yang kemudian ingin dibawa ke lingkungan STIJNAS.
Ia berharap kampus tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi tempat pembentukan karakter dan keberanian intelektual generasi muda.
Mahasiswa harus didorong untuk berani bertanya, melakukan penelitian, membaca persoalan masyarakat secara kritis, serta menyampaikan gagasan berdasarkan argumentasi dan data.
BPI KPNPA RI dan STIJNAS Bangun Sinergi Pendidikan
Kehadiran Rahmad Sukendar sebagai Dewan Pembina STIJNAS juga membuka peluang terbentuknya sinergi lebih luas antara pengalaman organisasi, penelitian, pendidikan dan dunia jurnalistik.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas ruang pembelajaran bagi mahasiswa sekaligus memberikan pengalaman langsung mengenai penelitian dan dinamika persoalan sosial di tengah masyarakat.
Rahmad berharap STIJNAS dapat berkembang menjadi institusi pendidikan jurnalistik yang tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan teknis, tetapi juga memiliki karakter dan integritas.
Sebab, menurutnya, tantangan jurnalisme masa depan bukan hanya persoalan kemampuan menggunakan teknologi.
Lebih dari itu, tantangan terbesar adalah bagaimana seorang jurnalis tetap mampu menjaga independensi, etika, akurasi dan keberpihakan kepada kepentingan publik di tengah derasnya arus informasi.
STIJNAS Didorong Jadi Kawah Candradimuka Jurnalis Berintegritas
Rektor STIJNAS, H. Qodiran, menyambut kehadiran TB Rahmad Sukendar sebagai bagian dari Dewan Pembina.
Menurut Qodiran, pengalaman panjang Rahmad dalam kepemimpinan organisasi, penelitian dan kegiatan kemasyarakatan menjadi nilai tambah bagi pengembangan STIJNAS.
“Beliau memiliki rekam jejak kepemimpinan yang kuat. Kami yakin kehadiran beliau di STIJNAS akan membawa semangat baru bagi civitas akademika,” ujar Qodiran.
Hal senada disampaikan Pimpinan Kampus STIJNAS, H. Dadang Budiman.
Menurutnya, pengalaman Rahmad dalam membangun organisasi, melakukan penelitian dan menjalankan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan dapat memberikan perspektif baru bagi dunia pendidikan jurnalistik.
Dengan bergabungnya Rahmad Sukendar sebagai Dewan Pembina, STIJNAS diharapkan semakin kuat menjadi ruang pembentukan generasi jurnalis yang tidak hanya menguasai teori dan teknik jurnalistik, tetapi juga memahami realitas sosial.
Mencetak Generasi yang Berani Berpikir Berdasarkan Fakta
Momentum tersebut pada akhirnya bukan sekadar tentang gelar kehormatan maupun pergantian ruang pengabdian dari organisasi menuju kampus.
Ada misi yang lebih besar: membangun manusia melalui pendidikan.
Dari pengalaman panjang di BPI KPNPA RI, Rahmad membawa semangat kaderisasi ke STIJNAS. Dari dunia penelitian, ia membawa budaya berpikir berbasis data. Dari aktivitas kemasyarakatan, ia membawa kepekaan terhadap persoalan publik.
Sementara dari dunia jurnalistik, ia ingin menanamkan satu prinsip penting: informasi harus berpijak pada fakta dan disampaikan dengan tanggung jawab.
STIJNAS pun diharapkan menjadi lebih dari sekadar tempat belajar jurnalistik. Kampus tersebut diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda yang kritis, berani menyampaikan kebenaran, memahami etika, memiliki kepedulian sosial, dan mampu menggunakan ilmu pengetahuan untuk kepentingan masyarakat.
Sebab pada akhirnya, pendidikan dan jurnalistik memiliki satu tujuan yang sama: mencerdaskan kehidupan masyarakat.
Di tengah derasnya arus informasi dan maraknya disinformasi, generasi yang dibutuhkan bukan hanya mereka yang cepat berbicara, tetapi mereka yang mampu berpikir kritis, memeriksa fakta, menjaga integritas dan berani berdiri di atas kebenaran.
Dan dari STIJNAS, misi itu kini mulai dibangun.
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar