Raih Gelar Doktor Cumlaude,Anak Agung Dalem Pemayun Dorong Sewaka Dharma Jadi Model Pelayanan Berbasis Kearifan Lokal
- account_circle admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Anak Agung Gede Dalem Pemayun, SH., M.A.P., CCMS., resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Agama dan Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Akademik Ujian Terbuka Promosi Doktor di Aula Lantai III Gedung Rektorat UNHI, Jalan Sangalangit, Tembau, Penatih, Denpasar Timur, Rabu (26/8/2026).
Dalem Pemayun dinyatakan lulus dengan predikat Cumlaude setelah mempertahankan disertasi berjudul “Implementasi Sewaka Dharma dalam Mengoptimalisasikan Pelayanan Kesehatan di Biddokkes Polda Bali.”
Penelitian tersebut tidak hanya mengkaji pelayanan kesehatan dari sisi manajemen modern, tetapi juga menggali bagaimana nilai-nilai kearifan lokal Bali dapat diintegrasikan ke dalam sistem pelayanan sehingga melahirkan pola manajemen yang disebut Dalem Pemayun sebagai manajemen hybrid.
Menurut Dalem Pemayun, Sewaka Dharma memiliki makna penting dalam membangun pelayanan yang tidak sekadar berorientasi pada prosedur, tetapi juga mengedepankan empati, ketulusan, penghormatan dan upaya memuliakan manusia.
“Sebagai Hindu Bali, saya mencoba menegosiasikan bagaimana pelayanan yang ada, khususnya dengan kearifan lokal Bali, menjadi pelayanan modern. Dari situlah temuan-temuan penelitian ini menjadi manajemen hybrid,” ungkapnya usai menjalani ujian promosi doktor.
Dalam penelitiannya, Dalem Pemayun melihat Biddokkes Polda Bali sebagai lembaga strategis yang memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan aspek kedokteran dan kesehatan di lingkungan Kepolisian Daerah Bali.
Namun, dalam praktik pelayanan masih ditemukan sejumlah persoalan, antara lain pelayanan yang belum optimal, proses yang dinilai lambat serta masih adanya kekurangan dalam aspek empati kepada pasien.
Kondisi tersebut kemudian menjadi dasar penelitian untuk menjawab tiga persoalan utama, yakni mengapa implementasi Sewaka Dharma belum optimal, bagaimana implementasinya dalam pelayanan kesehatan di Biddokkes Polda Bali, serta bagaimana implikasinya terhadap kehidupan sosial, budaya, perilaku pasien dan keluarga maupun manajemen institusi.

Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan agama dan budaya serta paradigma interpretatif. Dalem Pemayun menggunakan teori fenomenologi, teori manajemen pelayanan dan teori resepsi sebagai landasan analisis.
Hasil penelitian menunjukkan implementasi Sewaka Dharma dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya keterbatasan sumber daya manusia, sosialisasi dan komunikasi yang belum maksimal serta keterbatasan sarana dan prasarana.
Di sisi lain, implementasi Sewaka Dharma juga memperlihatkan adanya sinergi antara nilai kearifan lokal Bali dengan prinsip manajemen modern melalui empat fungsi manajemen, yakni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.
Temuan tersebut menjadi salah satu poin penting yang kemudian melahirkan konsep manajemen hybrid, yakni perpaduan nilai tradisional dan kearifan lokal dengan sistem manajemen modern.
Dalem Pemayun menilai konsep tersebut tidak hanya relevan diterapkan di lingkungan pelayanan kesehatan, tetapi juga memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan pada berbagai institusi dan kehidupan sehari-hari.
“Pelayanan itu bukan hanya di rumah sakit. Dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga, juga merupakan bagian daripada pelayanan. Kalau kita memberikan pelayanan dengan empati dan kemanusiaan, hubungan emosional akan menjadi lebih baik,” ujarnya.
Ia menegaskan, Sewaka Dharma pada dasarnya mengajarkan manusia untuk memberikan pelayanan secara tulus, menghormati dan memuliakan sesama.

Menurutnya, nilai tersebut dapat diterapkan dalam berbagai bidang karena setiap manusia maupun institusi pada dasarnya memiliki aktivitas pelayanan.
“Jangan ilmu itu hanya dibaca, tetapi implementasikan. Di mana pun kita berada dan berpijak, di situlah kita menghargai orang lain dan memberikan pelayanan terbaik,” tegasnya.
Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi pijakan untuk pengembangan penelitian berikutnya sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas pelayanan, baik di lingkungan kepolisian, institusi kesehatan maupun sektor lainnya.
Dalem Pemayun juga membuka peluang agar konsep manajemen hybrid yang ditemukan dalam penelitian tersebut dapat dikembangkan dan diterapkan lebih luas, termasuk pada institusi kepolisian di luar Bali maupun lembaga pelayanan lainnya.
“Jangankan di Polda Bali atau Polda lain, setiap institusi dan setiap orang pasti memberikan pelayanan. Kalau pelayanan dilakukan dengan ikhlas, hati bersih dan pikiran suci, manfaatnya akan sangat dirasakan,” katanya.
Sidang terbuka tersebut dipimpin Rektor UNHI sekaligus Ketua Tim Penguji, Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, S.E., M.Si. Hadir pula Dekan Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya UNHI Prof. Dr. Ir. Euis Dewi Yuliana, M.Si., serta Koordinator Program Doktor Ilmu Agama dan Kebudayaan Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa, M.Si.
Dalem Pemayun didampingi Promotor Prof. Dr. I Ketut Suda, M.Si., dan Ko-Promotor Dr. Drs. I Made Sumarya, M.Si.
Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa, M.Si., Prof. Dr. Ir. Euis Dewi Yuliana, M.Si., Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, MS., Prof. Dr. Drs. Wayan Paramartha, SH., M.Pd., serta penguji eksternal Prof. Dr. Dewa Putu Oka Prasiasa, A.Par., MM.
Dengan diraihnya gelar Doktor dengan predikat Cumlaude, Dalem Pemayun berharap capaian akademik tersebut tidak berhenti sebagai gelar, melainkan dapat diwujudkan dalam bentuk pengabdian dan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Bagi Dalem Pemayun, esensi Sewaka Dharma bukan sekadar slogan, tetapi sebuah nilai untuk membangun pelayanan yang manusiawi—dengan memadukan profesionalitas, kearifan lokal, empati dan ketulusan dalam memuliakan sesama.
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar