Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pembaruan KUHAP Perkuat Kejaksaan Dalam Penanganan Korupsi

  • account_circle admin
  • calendar_month Selasa, 18 Mar 2025
  • visibility 845
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jarrakpos.com Jakarta – PEMBAHARUAN Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) saat ini terus mengalami kemajuan. Banyak hal-hal yang telah menyesuaikan kebutuhan sebagaimana telah diatur di dalam hukum materil, KUHP Nasional, serta dinamika penegakan hukum kontemporer.

Khusus untuk kejaksaan dengan fungsi utamanya sebagai penuntut umum, pembaharuan KUHAP telah menempatkannya sesuai dengan jati dirinya, yakni sebagai pemilik perkara (dominus litis).

Hal ini tampak dari sudah dibuat aturan yang rinci tentang hubungan antara penuntut umum dengan penyidik, yakni dalam proses penyidikan, Penyidik dan Penuntut Umum dapat melakukan koordinasi dan konsultasi untuk menyatukan persepsi terhadap penanganan dan penyelesaian perkara yang sedang ditangani.

Adanya koordinasi dan konsultasi ini tentu akan memberikan ruang komunikasi yang efektif antara penyidik dan penuntut umum, sehingga tidak berkepanjangan bolak-balik perkara sebagaimana sering terjadi.

Kemudian dalam hal fungsi penyidikan yang selama ini juga melekat pada Kejaksaan adalah penyidikan tindak pidana korupsi. Di dalam pembaharuan KUHAP, hal ini tidak disebutkan secara eksplisit, namun bisa kita lihat di dalam penjelasan RKUHAP terakhir, yang menyebutkan, “Penyidik Tertentu” adalah Penyidik Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Penyidik perwira Tentara Nasional Indonesia angkatan laut yang memiliki kewenangan melakukan Penyidikan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perikanan, kelautan, dan pelayaran pada wilayah zona ekonomi eksklusif dan Jaksa dalam tindak pidana pelanggaran hak asasi manusia berat.

Jaksa disebutkan sebagai penyidik tertentu, yang mempunyai kewenangan penyidik untuk tindak pidana pelanggaran HAM berat, sehingga apabila disahkan menjadi UU, maka fungsi penyidikan tindak pidana korupsi tidak lagi dapat diperankan oleh kejaksaan. Pada titik ini, kita harus melihat secara proporsional.

Sebagaimana yang menjadi batasan sesuai yang diatur di dalam RKUHAP, kejaksaan hanya bisa menjadi penyidik tertentu pada kasus HAM berat, bukan korupsi.

Sebenarnya klausul ini menjadi ruang, meskipun tidak berkepastian hukum. Menjadi ruang maksudnya jaksa juga bisa menjadi penyidik. Bila kita memperluas makna dari “jaksa sebagai pemilik perkara”, tentu kewenangan penyidikan juga bisa saja dilakukan. Akan tetapi memang saat ini dibatasi oleh UU. Artinya harus melihat pada kebutuhannya.

Saat ini untuk tindak pidana korupsi, penyidikan bisa dilakukan baik oleh kepolisian, kejaksaan, maupun KPK. Khusus untuk kejaksaan, secara universal dengan asas dominus litis tersebut, tidak lah menjadi hal yang rancu ketika kejaksaan juga diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan. Memang tentu ada keterbatasan, oleh karena itu tidak semua tindak pidana, kejaksaan harus melakukan penyidikan.

Apabila kita melihat pada kebutuhan, dengan intensitas kejadian yang sangat tinggi, sepertinya masih dibutuhkan kejaksaan juga turut langsung melakukan penyidikan khusus untuk tindak pidana korupsi. Hal tersebut juga pada dasarnya memudahkan proses penegakan hukum nya, karena akan lebih efisien sesuai dengan prinsip penanganan perkara yang cepat.

Dari sisi sejarahnya, sejak zaman HIR jaksa juga diberikan kewenangan untuk melakukan penyidikan tindak pidana tertentu, termasuk korupsi. Dalam perkembangan di berbagai negara juga memberikan kewenangan jaksa untuk melakukan penyidikan tindak pidana korupsi. Artinya, dari berbagai pertimbangan di atas harusnya kewenangan penyidikan tindak pidana tertentu, termasuk korupsi, masih diberikan kepada kejaksaan.

Bila mencermati apa yang sudah dirumuskan di dalam RKUHAP, maka perlu diberikan norma tersendiri mengenai kewenangan kejaksaan untuk dapat menjadi penyidik dalam tindak pidana korupsi, karena terdapat batasan umum yang menyatakan bahwa penyidik adalah kepolisian. Selain itu, dapat pula dimasukan di dalam penjelasan mengenai penyidik tertentu, yang menyebutkan bahwa jaksa dapat menjadi penyidik tindak pidana korupsi.

Kemudian, hal lain mengenai penguatan institusi kejaksaan didalam RKUHAP, yakni diperlukan adanya kejelasan mengenai kewenangan penuntutan, yang di dalam RKUHAP ditambah dengan pejabat lain yang diberi kewenangan untuk melakukan penuntutan, selain dari pejabat kejaksaan.

Di dalam penjelasan disebutkan, Pejabat suatu lembaga yang diberi kewenangan untuk melakukan Penuntutan berdasarkan ketentuan Undang- Undang, misalnya Komisi Pemberantasan Korupsi yang berwenang melakukan Penuntutan terhadap tindak pidana korupsi.

Ketentuan ini tidak memberikan kejelasan, karena pada ketentuan umum disebutkan secara definitif bahwa penuntut umum adalah jaksa. Oleh karena itu, agar sesuai dengan batasan di dalam ketentuan umum, yang dimaksud dengan pejabat lain tersebut harus ditegaskan adalah pejabat kejaksaan yang ditugaskan di KPK. Dengan demikian tidak terjadi benturan norma.

Pembaharuan KUHAP saat ini tentu dinantikan oleh semua pihak, dengan harapan semua fungsi-fungsi penegakan hukum dapat berjalan dengan baik dan menyelesaikan berbagai persoalan penegakan hukum yang selama ini terjadi.

Penulis : Dosen Hukum Pidana/Ketua Pusat Studi Kejaksaan Universitas Lampung, Ahmad Irzal Fardiansyah

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • FONKACI Dorong Kreativitas dan Karakter Anak Sejak Dini

    FONKACI Dorong Kreativitas dan Karakter Anak Sejak Dini

    • calendar_month Kamis, 20 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 147
    • 0Komentar

    CIREBON, JARRAKPOS.COM — Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya, menghadiri Forum Anak Kabupaten Cirebon (FONKACI) yang diselenggarakan oleh TP PKK Kabupaten Cirebon berkolaborasi dengan DPPKBP3A Kabupaten Cirebon di ruang Nyi Mas Gandasari, Setda Kabupaten Cirebon, Selasa (18/2/2025). Hadir pula Kepala dan Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Cirebon, […]

  • Hari Obesitas Sedunia, Dispora Bengkulu: Olahraga dan Pola Makan Sehat Kunci Lawan Obesitas

    Hari Obesitas Sedunia, Dispora Bengkulu: Olahraga dan Pola Makan Sehat Kunci Lawan Obesitas

    • calendar_month Selasa, 4 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 750
    • 0Komentar

    BENGKULU, jarrakpos.com – Memperingati Hari Obesitas Sedunia yang jatuh pada 4 Maret 2025 , Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Bengkulu mengajak masyarakat untuk melawan obesitas dengan rutin berolahraga dan menerapkan pola makan sehat . Kepala Dispora Provinsi Bengkulu, Ika Joni Ikhwan, S.Sos. , menekankan bahwa obesitas merupakan masalah kesehatan global yang perlu mendapat perhatian […]

  • Ratusan Massa Minta Hentikan Intervensi, Jaga Prinsip Kesetaraan di Mata Hukum

    Ratusan Massa Minta Hentikan Intervensi, Jaga Prinsip Kesetaraan di Mata Hukum

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Admin Jakarta
    • visibility 204
    • 0Komentar

    Matacompas.com Surabaya – Ratusan massa yang tergabung dalam Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAMI) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, Jumat (10/7/2026) siang. Massa mendesak adanya transparansi hukum serta meminta Presiden Republik Indonesia melakukan revitalisasi total di tubuh institusi Kejaksaan. Berdasarkan pantauan di lokasi sekitar pukul 13.40 WIB, massa aksi […]

  • KOLABORASI DENGAN PLN LAPAS SUKAMISKIN REVITALISASI SARANA UMUM LAPAS SEBAGAI CAGAR BUDAYA

    KOLABORASI DENGAN PLN LAPAS SUKAMISKIN REVITALISASI SARANA UMUM LAPAS SEBAGAI CAGAR BUDAYA

    • calendar_month Kamis, 9 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 360
    • 0Komentar

    BANDUNG, Jarrakpos.com-Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Sukamiskin, berkolaborasi dengan PT. PLN (Pesero) Unit Induk Distribusi Jawa Barat untuk menciptakan Lapas Cagar Budaya, setelah sebelumnya ditetapkannya Lapas Sukamiskin sebagai Lapas Cagar Budaya oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung pada Tahun 2015 lalu, Kolaborasi ini terjalin dalam bentuk Perjanjian Kerja Sama tentang Pengembangan Sarana Umum Lapas sebagai […]

  • Wayan Bawa: Rahina Kuningan Momen Teguhkan Dharma dan Harmoni Bali

    Wayan Bawa: Rahina Kuningan Momen Teguhkan Dharma dan Harmoni Bali

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 28
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com – Menjelang perayaan Rahina Kuningan, Anggota Komisi I DPRD Provinsi Bali dari Fraksi PDI Perjuangan, I Wayan Bawa, S.H., memberikan pesan spiritual yang menekankan pentingnya keteduhan batin dan penguatan nilai dharma. Ia mengajak umat Hindu menjadikan Kuningan sebagai momen penyelarasan diri di tengah dinamika kehidupan modern. Dalam pesannya, Wayan Bawa menyampaikan doa untuk […]

  • Geger Video Asusila di Karangasem, Imigrasi Bali Masukkan Dua WNA Prancis ke Daftar SOI

    Geger Video Asusila di Karangasem, Imigrasi Bali Masukkan Dua WNA Prancis ke Daftar SOI

    • calendar_month Selasa, 27 Okt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 22
    • 0Komentar

    DENPASAR, MATACOMPAS.COM — Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Bali mengambil langkah tegas menyikapi beredarnya video dewasa berdurasi 13 menit yang diduga direkam di sebuah penginapan di kawasan wisata Karangasem, Bali. Dua warga negara asing (WNA) asal Prancis yang diduga terlibat dalam video tersebut kini telah dimasukkan ke dalam aplikasi Subject of Interest (SOI) untuk memperketat […]

expand_less