PHDI Bali Gelar Paruman Bahas Akses Pura dan Pelaba Pura di Kawasan BTID Serangan
- account_circle admin
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali menggelar pertemuan khusus untuk membahas berbagai aspirasi dan dinamika yang berkembang di tengah masyarakat Hindu terkait akses menuju pura-pura yang berada di kawasan PT Bali Turtle Island Development (BTID) Serangan, Kamis (25/6/2026).
Pertemuan yang berlangsung di Aula Gedung PHDI Provinsi Bali tersebut menghadirkan Ratu Sulinggih, tokoh agama, pengempon pura, unsur masyarakat adat, serta berbagai pemangku kepentingan yang berkaitan dengan keberadaan pura dan pelaba pura di kawasan Serangan.
Ketua PHDI Provinsi Bali, I Nyoman Kenak, dalam undangan resmi yang dikeluarkan bersama Sekretaris PHDI Bali, Ir. Putu Wirata Dwikora, menyampaikan bahwa forum ini digelar sebagai respons atas berbagai masukan dan aspirasi masyarakat yang mengemuka dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut PHDI Bali, persoalan akses umat untuk melaksanakan persembahyangan ke sejumlah pura yang berada di dalam kawasan BTID menjadi salah satu isu yang perlu mendapatkan perhatian serius. Selain itu, keberadaan pelaba pura serta berbagai persoalan lain yang berkaitan dengan kesucian, fungsi, dan aksesibilitas kawasan suci juga menjadi bagian dari agenda pembahasan.
Forum tersebut diharapkan dapat menjadi ruang dialog yang konstruktif guna menghimpun berbagai pandangan dan masukan dari para sulinggih, tokoh adat, akademisi, serta masyarakat Hindu. Hasil pertemuan nantinya diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi dasar penyelesaian persoalan secara bijaksana, berkeadilan, dan tetap berlandaskan nilai-nilai agama Hindu, adat, budaya, serta ketentuan hukum yang berlaku.
PHDI Bali menegaskan bahwa keberadaan pura sebagai tempat suci umat Hindu harus mendapatkan perlindungan dan penghormatan, termasuk memastikan akses yang memadai bagi umat dalam menjalankan kewajiban keagamaan. Karena itu, masukan dari berbagai pihak dinilai penting untuk merumuskan langkah-langkah yang dapat mengakomodasi kepentingan umat sekaligus menjaga harmonisasi dengan pengelolaan kawasan yang ada.
Pertemuan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga Selesai tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara lembaga keagamaan, masyarakat adat, dan pihak-pihak terkait dalam menjaga kesucian pura serta hak umat Hindu untuk beribadah dengan nyaman dan aman di kawasan Serangan.
Dengan semakin berkembangnya dinamika pembangunan di Bali, PHDI berharap setiap persoalan yang menyangkut tempat suci dan kepentingan umat dapat diselesaikan melalui dialog, musyawarah, dan semangat menyama braya demi menjaga keseimbangan antara pembangunan, pelestarian budaya, serta nilai-nilai spiritual masyarakat Bali.
- Penulis: admin



Saat ini belum ada komentar