I Wayan Bawa Kenang 30 Tahun Kudatuli: Pengorbanan Pejuang Demokrasi Harus Menjadi Inspirasi Bangsa
- account_circle admin
- calendar_month Senin, 27 Jul 2026
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Tepat 30 tahun berlalu sejak peristiwa Kelabu Dua Puluh Tujuh Juli atau Kudatuli, tragedi penyerangan terhadap Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 1996. Peristiwa yang menjadi salah satu catatan paling kelam dalam sejarah politik Indonesia itu hingga kini dikenang sebagai simbol perjuangan mempertahankan demokrasi, konstitusi, dan hak politik rakyat.
Kudatuli bermula dari konflik kepemimpinan internal PDI antara kubu Megawati Soekarnoputri, yang terpilih melalui Kongres Surabaya 1993, dengan kubu Soerjadi yang ditetapkan melalui Kongres Luar Biasa di Medan dan mendapat pengakuan pemerintah saat itu. Perselisihan tersebut memuncak ketika massa pendukung kubu Soerjadi berupaya mengambil alih kantor DPP PDI yang masih diduduki pendukung Megawati.
Penyerangan yang terjadi pada pagi hari 27 Juli 1996 berujung bentrokan hebat. Kerusuhan meluas ke sejumlah ruas jalan di Jakarta, mengakibatkan korban jiwa, korban luka, orang hilang, serta kerusakan berbagai fasilitas umum. Peristiwa tersebut mendapat sorotan luas dari masyarakat nasional maupun internasional sebagai bentuk represi terhadap kebebasan berpolitik pada masa Orde Baru.
Bagi banyak kalangan, Kudatuli tidak sekadar menjadi konflik internal sebuah partai politik, tetapi juga menjadi titik balik meningkatnya gelombang perlawanan masyarakat terhadap praktik otoritarianisme. Tragedi itu kemudian memperkuat gerakan prodemokrasi yang berpuncak pada lahirnya era Reformasi 1998.
Momentum 30 Tahun Kudatuli menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak lahir secara instan, melainkan melalui perjuangan panjang yang penuh pengorbanan. Nilai-nilai keberanian, kebebasan menyampaikan pendapat, penghormatan terhadap konstitusi, dan supremasi hukum menjadi warisan penting yang terus relevan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Anggota DPRD Provinsi Bali dari Fraksi PDI Perjuangan, I Wayan Bawa, mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa. Menurutnya, Kudatuli merupakan pengingat bahwa demokrasi harus dijaga melalui partisipasi rakyat, penghormatan terhadap hukum, dan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk kekerasan politik.
“Peristiwa Kudatuli adalah bagian dari sejarah bangsa yang mengajarkan pentingnya menjaga demokrasi dan persatuan. Pengorbanan para pejuang demokrasi harus menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus merawat nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.
Peringatan tiga dekade Kudatuli diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum refleksi nasional agar sejarah kelam tersebut tidak pernah terulang. Demokrasi yang sehat hanya dapat tumbuh apabila seluruh elemen bangsa menghormati hak politik warga negara, menjunjung tinggi hukum, serta menyelesaikan setiap perbedaan melalui mekanisme konstitusional.
“Jas Merah” — Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Semangat perjuangan yang lahir dari Kudatuli menjadi pengingat bahwa demokrasi Indonesia dibangun melalui keberanian, pengorbanan, dan tekad rakyat untuk mempertahankan kedaulatan di atas kepentingan apa pun.
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar