Bli Denok: Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Seremoni, Saatnya Generasi Muda Menjaga Warisan Leluhur
- account_circle admin
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BADUNG, MATACOMPAS.COM — Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan bangsa sekaligus meneguhkan komitmen generasi muda dalam menjaga seni, budaya, adat, dan tradisi sebagai warisan berharga Nusantara.
Melalui momentum bersejarah tersebut, Pakarang Adat Kamanunggal bersama Yayasan Tri Hita Karana Jambangan (YTHKJ) menyerukan pentingnya keterlibatan aktif generasi muda dalam melestarikan kebudayaan dan memperkuat karakter bangsa di tengah pesatnya perkembangan zaman.
Keduanya menegaskan, semangat Sumpah Pemuda tidak seharusnya berhenti pada seremoni tahunan. Lebih dari itu, nilai-nilai persatuan yang diwariskan para pemuda pada 28 Oktober 1928 harus diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari menjaga keberagaman, merawat tradisi leluhur, hingga berkontribusi bagi kemanusiaan dan kelestarian lingkungan.
Bagi Pakarang Adat Kamanunggal dan YTHKJ, kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang membentuk karakter, memperkuat persaudaraan, serta menjadi fondasi bagi keberlanjutan peradaban bangsa.
Bli Denok: Menjaga Warisan Leluhur Merupakan Bentuk Pengabdian
Ketua Dewan Pembina Yayasan Tri Hita Karana Jambangan, I Made Wiraguna yang akrab disapa Bli Denok, menegaskan bahwa menjaga warisan leluhur dan identitas bangsa merupakan panggilan pengabdian yang harus dijalankan dengan ketulusan.
Semangat tersebut selaras dengan filosofi Ngayah Pinaka Yadnya, Ngayah Pinaka Bakti, yang menempatkan pengabdian sebagai bentuk persembahan, ketulusan, dan tanggung jawab kepada masyarakat, budaya, serta kehidupan.
“Seni, budaya, adat, dan tradisi adalah identitas bangsa yang memiliki taksu dan jiwa hidup. Di momen Sumpah Pemuda ini, tugas generasi muda bukan hanya merawat warisan masa lalu, tetapi memperkuatnya dengan perubahan yang kekal bagi peradaban,” kata I Made Wiraguna (Bli Denok).
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan prinsip Bakti, Sakti, Mukti sebagai landasan semangat pengabdian, yang diperkuat dengan nilai-nilai Tri Hita Karana.
Menurutnya, keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama merupakan fondasi penting dalam membangun kehidupan yang harmonis, berbudaya, dan berkelanjutan.
“Berlandaskan prinsip Bakti, Sakti, Mukti serta keseimbangan Tri Hita Karana, hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama, kita wujudkan gerakan nyata untuk kemanusiaan, lingkungan hidup, dan kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan kepada generasi muda agar tidak hanya bangga terhadap kebudayaan daerahnya, tetapi juga mengambil peran aktif dalam menjaga dan mengembangkannya sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Pakarang Adat sebagai Simbol Identitas dan Keberagaman Nusantara
Melalui Pakarang Adat Kamanunggal, nilai-nilai kebudayaan diharapkan terus hidup dan berkembang sebagai bagian dari identitas masyarakat Nusantara.
Pakarang Adat dipandang sebagai simbol kekuatan, keindahan, dan keberagaman tradisi yang memiliki nilai historis serta filosofis. Pelestariannya menjadi salah satu bentuk upaya menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal dan dihargai oleh generasi berikutnya.
Bersama YTHKJ, upaya tersebut diarahkan untuk memperkuat kecintaan terhadap kebudayaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, yakni persatuan yang tumbuh di tengah keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, dan tradisi.
Semangat ini menjadi semakin relevan di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang membawa berbagai pengaruh terhadap kehidupan generasi muda.
Modernisasi, pada satu sisi, membuka peluang untuk memperkenalkan kebudayaan kepada masyarakat yang lebih luas. Namun, pada sisi lain, diperlukan kesadaran bersama agar kemajuan zaman tidak membuat generasi penerus kehilangan akar budaya dan jati dirinya.
Karena itu, pelestarian budaya perlu berjalan beriringan dengan inovasi, pendidikan karakter, dan keterlibatan anak muda dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Mengenang Tiga Ikrar Bersejarah Sumpah Pemuda
Hari Sumpah Pemuda diperingati setiap 28 Oktober untuk mengenang lahirnya ikrar persatuan dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928.
Kongres yang melibatkan berbagai organisasi pemuda dari beragam daerah tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia.
Tiga ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda menegaskan tekad untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, yaitu Indonesia.
Dalam ejaan asli 1928, ikrar tersebut berbunyi:
1. POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.
2. POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.
3. POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.
Ikrar tersebut bukan hanya catatan sejarah, melainkan pengingat bahwa persatuan Indonesia dibangun melalui kesadaran untuk menempatkan kepentingan bersama di atas perbedaan.
Dalam konteks kehidupan saat ini, semangat tersebut dapat diwujudkan dengan menghormati keberagaman budaya, menjaga keharmonisan sosial, serta memperkuat rasa tanggung jawab terhadap bangsa dan negara.
Bagi Pakarang Adat Kamanunggal dan YTHKJ, semangat Sumpah Pemuda juga menjadi landasan untuk membangun generasi yang memiliki karakter kuat, menghargai tradisi, dan mampu menghadapi tantangan masa depan tanpa meninggalkan jati diri Nusantara.
YTHKJ, Bergerak dalam Bidang Sosial, Budaya, dan Lingkungan
Yayasan Tri Hita Karana Jambangan merupakan lembaga yang berkedudukan di Kabupaten Badung, Bali, dengan bidang kegiatan sosial, keagamaan, kemanusiaan, dan lingkungan hidup.
Dalam kiprahnya, YTHKJ memiliki ruang gerak yang mencakup pelestarian kebudayaan, pembinaan karakter dan budi pekerti, konservasi lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kegiatan tersebut sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana yang menekankan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia.
YTHKJ berkantor sekretariat di Jalan Gandamayu, Banjar Pengiasan, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.
Berdasarkan data kelembagaan yang disampaikan, yayasan ini didirikan melalui Akta Notaris Nomor 16 tanggal 10 November 2014, dengan sejumlah perubahan akta pada 2025.
Adapun susunan pimpinan dan pengurus YTHKJ terdiri atas I Made Wiraguna (Bli Denok) sebagai Ketua Dewan Pembina, I Nyoman Anom Manik Cahyadi sebagai Ketua Pengawas, I Putu Antara Wijaya sebagai Ketua Pengurus, I Wayan Ariana sebagai Sekretaris, dan Wayan Danu Kumara sebagai Bendahara.
Sejumlah anggota pengurus turut mendukung pelaksanaan kegiatan dan program yayasan sesuai bidang pengabdian masing-masing.
Bli Denok dan Semangat Pengabdian kepada Masyarakat
I Made Wiraguna, yang dikenal dengan sapaan Bli Denok, merupakan figur yang mendedikasikan kiprahnya pada kegiatan kepemudaan dan pengabdian sosial kemasyarakatan di Kabupaten Badung dan Bali.
Melalui perannya sebagai Ketua Dewan Pembina YTHKJ, ia membawa pesan bahwa pembangunan masyarakat tidak cukup hanya bertumpu pada kemajuan fisik dan ekonomi, tetapi juga membutuhkan penguatan karakter, kepedulian sosial, serta pelestarian kebudayaan.
Semangat tersebut menjadi penting agar generasi muda tumbuh sebagai pribadi yang tidak hanya mampu beradaptasi dengan perubahan, tetapi juga memahami akar sejarah dan nilai-nilai luhur yang membentuk identitas bangsanya.
Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 pun diharapkan menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat kontribusi generasi muda dalam berbagai bidang, mulai dari kebudayaan, pendidikan, kemanusiaan, hingga perlindungan lingkungan.
Menjaga Budaya, Memperkuat Persatuan, Membangun Masa Depan
Pakarang Adat Kamanunggal bersama YTHKJ menempatkan pelestarian budaya sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan identitas bangsa.
Warisan leluhur harus dirawat bukan hanya melalui simbol dan perayaan, tetapi juga melalui tindakan, keteladanan, serta keterlibatan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Generasi muda memiliki peran strategis untuk membawa seni, adat, dan tradisi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Dengan dukungan keluarga, komunitas, lembaga kebudayaan, dan masyarakat, nilai-nilai luhur Nusantara dapat terus diwariskan tanpa kehilangan makna aslinya.
Momentum Sumpah Pemuda ke-98 menjadi pengingat bahwa persatuan tidak berarti menyeragamkan seluruh perbedaan. Sebaliknya, persatuan tumbuh ketika setiap kelompok mampu menghargai identitas masing-masing dan menjadikannya kekuatan bersama.
Semangat itu sejalan dengan pesan yang diusung Pakarang Adat Kamanunggal dan YTHKJ: Bakti, Sakti, Mukti.
Melalui pengabdian, kekuatan karakter, dan tekad untuk mencapai kesejahteraan bersama, pelestarian budaya diharapkan menjadi gerakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Bakti kepada leluhur, sakti dalam menjaga jati diri, dan mukti dalam mewujudkan kesejahteraan bersama menjadi pesan utama dalam peringatan Sumpah Pemuda ke-98.
Dari Badung, semangat tersebut menjadi ajakan untuk terus merawat warisan Nusantara, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan Indonesia sebagai bangsa yang maju tanpa kehilangan akar budayanya.
- Penulis: admin










Saat ini belum ada komentar