Longsor Pelaga Eco Park Jadi Alarm Bahaya, Lanang Umbara: Mitigasi Jangan Sekadar Formalitas
- account_circle admin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BADUNG, MATACOMPAS.COM – Tragedi tanah longsor yang menimpa kawasan glamping Pelaga Eco Park, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, menyisakan duka mendalam. Peristiwa yang dipicu hujan lebat tersebut dilaporkan menyebabkan korban jiwa, sementara dua orang yang terdiri dari warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA) masih dalam pencarian.
Wakil Ketua Komisi I DPRD Provinsi Bali, I Gusti Lanang Umbara, S.Sos., menyampaikan rasa prihatin dan duka atas musibah tersebut. Ia berharap seluruh korban yang masih belum ditemukan dapat segera dievakuasi oleh tim penyelamat.
Saat dihubungi pada Selasa (3/11/2026), Lanang Umbara mengungkapkan bahwa berdasarkan keterangan pengelola, upaya antisipasi sebenarnya telah dilakukan sebelum bencana terjadi. Para tamu yang menginap disebut telah ditawarkan untuk berpindah ke lokasi glamping lain yang dinilai lebih aman.
Namun, tamu tersebut dikabarkan tidak bersedia berpindah dan memilih tetap berada di lokasi semula. Setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut, longsor pun terjadi hingga menerjang dan menghancurkan bangunan glamping.
“Dengan kejadian ini, tentunya menjadi evaluasi bagi kita semua ke depan. Kita harus melakukan evaluasi terkait potensi-potensi bencana yang bisa terjadi akibat faktor alam, seperti hujan lebat, angin, dan sebagainya,” ujarnya.
Pelaga Memiliki Kerawanan Longsor
Lanang Umbara menjelaskan, wilayah Pelaga dan sekitarnya memang memiliki tingkat kerawanan tanah longsor yang cukup tinggi, terutama ketika memasuki musim penghujan.
Kondisi geografis berupa perbukitan, tebing curam, serta kontur jalan yang ekstrem menjadi tantangan tersendiri bagi keselamatan masyarakat maupun wisatawan yang beraktivitas di kawasan tersebut.
Menurutnya, upaya mitigasi sebenarnya telah dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak. Koordinasi juga telah dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Badung, termasuk Bupati dan Wakil Bupati Badung, serta pemerintah di tingkat Provinsi Bali.
Bahkan, perhatian terhadap potensi longsor tidak hanya difokuskan pada kawasan wisata, tetapi juga pada jalur-jalur utama yang setiap hari digunakan masyarakat untuk menjalankan aktivitas.
“Di jalur utama dari Pelaga menuju Pelaga Barat, seperti Semanik, Dingin, Auman hingga Sandaan, kondisi jalannya cukup ekstrem. Setiap kali hujan, hampir selalu terjadi longsor,” ungkapnya.
Meski selama ini belum sampai menimbulkan korban jiwa dari kalangan masyarakat setempat, Lanang Umbara menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh membuat pemerintah dan masyarakat lengah.
Dorong Pembangunan Shortcut dan Jembatan
Sebagai langkah jangka panjang, Lanang Umbara menyebut perlunya kajian menyeluruh terhadap ruas-ruas jalan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Ia mendorong pemerintah agar mempertimbangkan pembangunan jalur alternatif melalui shortcut atau jalan pintas, termasuk pembangunan jembatan untuk memotong jalur yang selama ini melewati tebing-tebing curam.
Dengan demikian, mobilitas masyarakat dapat menjadi lebih aman tanpa harus terus bergantung pada jalur yang berisiko tinggi mengalami longsor.
“Kita sudah melakukan mitigasi dan kajian. Hal ini juga sudah disampaikan kepada pemerintah, baik Pemerintah Kabupaten Badung maupun Pemerintah Provinsi Bali. Jalan-jalan yang curam dan memiliki potensi longsor perlu dicarikan solusi, termasuk melalui pembangunan shortcut dan jembatan,” tegasnya.
Kemanusiaan Menjadi Prioritas
Terkait penanganan tragedi di Pelaga Eco Park, Lanang Umbara menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal proses pencarian korban bersama instansi terkait.
Menurutnya, meskipun kawasan glamping tersebut merupakan usaha milik swasta, aspek kemanusiaan harus tetap menjadi prioritas utama. Pemerintah dan seluruh pihak terkait wajib memberikan perhatian serta pendampingan terbaik bagi para korban dan keluarga yang terdampak.
“Walaupun ini bukan masyarakat kita sendiri, tetap akan kita lakukan upaya terbaik untuk menemukan korban, bagaimanapun keadaannya. Kemanusiaan harus kita kedepankan,” ujarnya.
Ia berharap proses pencarian dapat berjalan lancar dan seluruh korban yang belum ditemukan segera mendapatkan kepastian.
Evaluasi Pengelolaan Destinasi Wisata
Lebih lanjut, Lanang Umbara menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan destinasi wisata, khususnya yang berada di kawasan dengan kondisi geografis rawan bencana.
Pihaknya akan mendorong koordinasi dengan para pengelola usaha pariwisata, baik Pelaga Eco Park maupun destinasi lainnya di wilayah Badung dan Bali, untuk memastikan langkah mitigasi dan sistem keselamatan diterapkan secara optimal.
Menurutnya, pengelola destinasi wisata harus memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana alam, termasuk prosedur evakuasi, pemetaan titik rawan, serta penyediaan lokasi yang aman bagi pengunjung.
“Ke depan, kami akan berkoordinasi dengan para pengelola, baik di Pelaga Eco Park maupun di daerah lainnya yang berpotensi menimbulkan bencana dan membahayakan masyarakat maupun wisatawan. Kita akan melakukan pendampingan dan mencari solusi terbaik agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” pungkasnya.
Tragedi longsor di Pelaga Eco Park menjadi pengingat bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam pengembangan pariwisata Bali. Di tengah pesatnya pertumbuhan destinasi wisata berbasis alam, mitigasi bencana, kepatuhan terhadap aspek keselamatan, serta kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca ekstrem menjadi tanggung jawab bersama.
- Penulis: admin










Saat ini belum ada komentar