I Wayan Tagel Winarta Kenang 30 Tahun Kudatuli: Tragedi Berdarah yang Menjadi Simbol Perlawanan terhadap Ketidakadilan
- account_circle admin
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Tepat tiga dekade sejak Tragedi Kudatuli mengguncang Indonesia pada 27 Juli 1996, Anggota DPRD Provinsi Bali Dapil Gianyar Fraksi PDI Perjuangan, I Wayan Tagel Winarta, mengajak masyarakat untuk tidak melupakan salah satu peristiwa paling kelam dalam perjalanan demokrasi bangsa.
Menurut I Wayan Tagel Winarta, peringatan 30 Tahun Kudatuli bukan sekadar mengenang sebuah tragedi politik, melainkan menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap demokrasi, supremasi hukum, serta penghormatan terhadap hak-hak rakyat dalam menyampaikan aspirasi.
Peristiwa Kudatuli merupakan penyerangan terhadap Kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 1996. Insiden tersebut dipicu oleh konflik kepemimpinan antara kubu Megawati Soekarnoputri dan kubu Soerjadi hasil Muktamar Medan. Penyerangan itu kemudian memicu kerusuhan yang menelan korban jiwa, luka-luka, serta sejumlah orang dinyatakan hilang.
Bagi Tagel Winarta, tragedi tersebut telah menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan demokrasi Indonesia. Semangat perlawanan yang lahir dari Kudatuli menjadi salah satu tonggak yang mendorong perubahan besar menuju era Reformasi.
“Kudatuli mengajarkan bahwa demokrasi tidak lahir begitu saja. Ada pengorbanan, keberanian, dan perjuangan panjang yang harus terus dihormati oleh seluruh generasi bangsa,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para korban dan pejuang demokrasi harus menjadi pengingat agar praktik kekerasan politik, pembungkaman suara rakyat, maupun penyalahgunaan kekuasaan tidak kembali terulang di Indonesia.
Sebagai kader PDI Perjuangan sekaligus wakil rakyat di DPRD Provinsi Bali, Tagel Winarta menilai semangat Kudatuli harus diwujudkan melalui kerja nyata dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat, menjaga demokrasi yang sehat, serta memastikan pembangunan berjalan berlandaskan keadilan dan keberpihakan kepada rakyat.
Peringatan 30 Tahun Kudatuli tidak hanya menjadi refleksi atas sejarah bangsa, tetapi juga pengingat bahwa demokrasi Indonesia dibangun melalui perjuangan panjang yang menuntut keberanian, persatuan, dan komitmen untuk menjaga nilai-nilai Pancasila. Semangat tersebut diharapkan terus hidup dalam setiap langkah pengabdian kepada masyarakat demi Indonesia yang lebih demokratis, berkeadilan, dan bermartabat.
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar