Breaking News
light_mode
Trending Tags

DR Diah Srikandi Jadi Narasumber FGD Kementerian PPPA Bahas Kesehatan Reproduksi Berketahanan Iklim

  • account_circle admin
  • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
  • visibility 21
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR, Matakompas.com – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN GPI) yang terdiri dari 5 area prioritas dan 7 sektor stragegis.

RAN GPI disusun untuk memberikan panduan aksi bagi K/L dan Pemerintah Daerah dalam menguatkan langkah-langkah pengendalian perubahan iklim dengan mengintegrasikan perspektif gender dan inklusi sosial serta memunculkan target kesetaraan gender dalam langkah-langkah tersebut.

Dalam upaya menerjemahkan RAN GPI ke tingkat yang lebih teknis, Kementerian PPPA dengan dukungan UNFPA Indonesia saat ini tengah menyusun Strategi Implementasi RAN GPI Sektor 6 untuk Isu Kesehatan Reproduksi.

Strategi Implementasi ini menjadi penting untuk memberikan panduan kepada K/L dan Pemda dalam mengimplementasikan program dan kebijakan reproduksi remaja untuk mendukung kesetaraan gender dan aksi iklim.

Untuk itu, Kementerian PPPA mengadakan FGD Penyusunan Strategi Implementasi RAN GPI Sektor 6 untuk isu kesehatan reproduksi di Sanur Resort Watujimbar, Jalan Danau Tamblingan Nomor 99A, Sanur, Bali, Rabu, 29 Oktober 2025.

DR. I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi W.S., SE.,MM., selaku Tim Ahli Gubernur Bali Bidang Perempuan dan Anak menjadi Narasumber FGD Kementerian PPPA dengan mengambil tema “Kesehatan Reproduksi Berketahanan Iklim”.

Dalam pemaparannya, Tim Ahli Gubernur Bali Bidang Perempuan dan Anak, DR. I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi W.S., SE.,MM., yang akrab disapa Gek Diah Srikandi menyebutkan Kesehatan Reproduksi berarti kondisi fisik, mental dan sosial yang baik dalam semua hal yang terkait system reproduksi dan prosesnya.

Sementara itu, Berketahanan Iklim adalah kemampuan sistem atau komunitas untuk bertahan, beradaptasi dan pulih dari dampak perubahan iklim (suhu ekstrem, cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, kerusakan lingkungan) dengan tetap menjaga fungsi normal.

“Perubahan iklim tidak hanya soal lingkungan, ia berdampak ke sektor Kesehatan, termasuk Kesehatan reproduksi. Contohnya, suhu ekstrem, bencana alam, kerusakan lingkungan dapat mempengaruhi kehamilan, kesuburan, akses layanan Kesehatan reproduksi,” kata Gek Diah Srikandi.

Dengan memadukan perspektif” Ketahanan Iklim” ke dalam program Kesehatan reproduksi berarti bisamempersiapkan layanan, edukasi dan kebijakan, supaya tetap efektif meskipun terjadi perubahan iklim/kondisi ekstrem.

Lebih lanjut Gek Diah Srikandi menyebutkan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan reproduksi.

– Paparan suhu ektrem (panas atau dingin) pada kehamilan: dapat meningkatkan resiko kelahiran premature, gangguan pertumbuhan janin, hipertensi kehamilan.

– Perubahan iklim mengakibatkan kerusakan alam, polusi, gangguan pangan & gizi serta mempengaruhi status gizi ibu hamil, dan ini berimplikasi Kesehatan reproduksi

Akses layanan kesehatan reproduksi bisa terganggu, saat bencana iklim atau kondisi ekstrem (infrastruktur rusak, transportasi terganggu, prioritas berubah)

“Kerentanan gender dan sosial terkait perempuan, remaja perempuan, kelompok rentan menjadi lebih terdampak terutama di konteks perubahan iklim. Misalnya, di daerah terdampak bencana, kekerasan berbasis gender dan seks (KBGS) meningkat,” terangnya.

Untuk membuat program kesehatan reproduksi menjadi berketahanan iklim, beberapa aspek utama harus diperhatikan :

a. Penilaian kerentanan dan kapasitas

Menilai seberapa rentan komunitas/sistem (ibu hamil, remaja, penyedia layanan) terhadap dampak perubahan iklim misalnya: Lokasi rawan banjir/gelombang panas, infrastruktur Kesehatan lemah, akses transportasi sulit.

b. Adaptasi dan Mitigasi

Adaptasi: menyiapkan sistem layanan kespro yang tahan terhadap cuaca ekstrem. Misalnya fasilitas yang punya alat cadangan, rute evakuasi, layanan mobile, edukasi khusus,

Mitigasi: mengurangi penyebab perubahan iklim juga penting, misalnya fasilitas Kesehatan yang hemat energi, pengelolaan limbah, kebijakan Kesehatan & lingkungan yang bersinergi.

c. Integrasi Lintas Sektor

Kesehatan reproduksi yang berketahanan iklim bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan saja, tapi melibatkan lingkungan, pendidikan, gender, perlindungan sosial, infrastruktur.

Misalnya: program Yayasan IPAS Indonesia yang menggabungkan Kesehatan reproduksi dan krisis iklim di Sulawesi Tengah

d. Edukasi dan Pemberdayaan Komunitas

Masyarakat (termasuk remaja dan Perempuan) perlu memahami dampak perubahan iklim terhadap reproduksi, bagaimana melindungi diri, mengakses layanan.

Edukasi harus kontekstual dan inklusif (memperhatikan gender, sosial ekonomi, penyandang disabilitas).

Beberapa strategi yang bisa diterapkan:

a.Pastikan layanan kesehatan reproduksi (kehamilan, persalinan, KB, infeksi menular seksual) tetap tersedia dalam kondisi darurat iklim (bencana, panas ekstrem, kekeringan)

b. Penguatan infrastruktur kesehatan fasilitas yang tahan banjir, Listrik Cadangan, transportasi darurat, kolaborasi dengan BPBD/Lembaga bencana lainnya.

c.Integrasi data iklim dan kesehatan menggunakan informasi cuaca ekstrem untuk mempredikasi lonjakan kebutuhan layanan, memperkuat sistem peringatan dini.

d. Fokus pada kelompok rentan remaja Perempuan, ibu hamil, lansia, penyandang disabilitas, Masyarakat di daerah terpencil.

e.Peningkatan kualitas gizi dan sanitasi (WASH) sebagai bagian dari ketahanan iklim dan Kesehatan reproduksi.

f. Advokasi Kebijakan Memastikan program Kesehatan reproduksi mencakup aspek perubahan iklim dan keberlanjutan lingkungan

g. Edukasi Masyarakat tentang hubungan antara lingkungan, iklim dan kesehatan reproduksi (misal: bagaimana polusi, panas ekstrem dapat memperngaruhi kehamilan)

h. Monitoring dan evaluasi dengan mengukur intervensi berhasil memperkuat ketahanan, baik di bidang reproduksi maupun kesehatan umum.

Untuk itu, Indonesia sebagai negara kepulauan sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti banjir, gelombang panas, kekeringan. Bahkan, di Bali/Denpasar bisa relevan terhadap wisata, urbanisasi, perubahan lingkungan, perlu adaptasi lokal (akses layanan Kesehatan reproduksi saat bencana, posyandu, bidan, distribusi kontrasepsi, transportasi).

Bahkan, kegiatan ini sangat membutuhkan keterlibatan Pemerintah Paerah, Dinas Kesehatan, lingkungan hidup, organisasi masyarakat untuk menyusun rencana adaptasi yang konstekstual.

Sangatlah penting untuk menggabungkan edukasi di sekolah, komunitas mengenai hubungan antara iklim dan kesehatan reproduksi sehingga generasi muda lebih siap,” urainya.

Kemudian, Gek Diah Srikandi menegaskan perubahan iklim memiliki dampak nyata terhadap kesehatan reproduksi, baik secara langsung (suhu ekstrem, polusi) maupun tidak langsung (akses layanan, gizi, kekerasan).

Untuk itu, program kesehatan reproduksi harus dikembangkan dengan pendekatan ketahanan iklim agar tetap efektif di masa depan.

“Sangat perlu melibatkan berbagai sektor, fokus ke kelompok rentan, penguatan infrastruktur dan edukasi adalah kuncinya. Di Indonesia, termasuk Bali, penting untuk mengintegrasikan isu ini dalam kebijakan lokal dan program komunitas,” pungkasnya. (red).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polsek Babakan Polresta Cirebon Amankan 2 Pelaku Hendak Tawuran Konten melalui Medsos

    Polsek Babakan Polresta Cirebon Amankan 2 Pelaku Hendak Tawuran Konten melalui Medsos

    • calendar_month Rabu, 15 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 222
    • 0Komentar

    Cirebon, Jarrakpos com – Polsek Babakan Polresta Cirebon mengamankan dua orang diduga pelaku yang hendak melakukan aksi tawuran konten melalui medsos di Jalan Gili Asmat belakang Pabrik Gula Babakan Desa Kudukeras Kec. Babakan Kab. Cirebon pada Rabu (15/1/2025) sekitar jam 02.20 WIB. Kapolresta Cirebon Kombes Pol. Sumarni, S.I.K., S.H., M.H., melalui Kapolsek Babakan, AKP Sugiharto, […]

  • HUT ke-81 RI, Made Supartha Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan Menuju Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur

    HUT ke-81 RI, Made Supartha Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan Menuju Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 21
    • 0Komentar

    DENPASAR — Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 menjadi refleksi penting bagi seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga persatuan sekaligus memperkuat semangat membangun Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur. Pesan tersebut disampaikan Dr C I Made Supartha, SH, MH, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bali, dalam menyambut peringatan […]

  • FPM Dorong Kejati Usut Tuntas Kasus BSPS Sumenep, Elit Politik Jangan Kebal Hukum

    FPM Dorong Kejati Usut Tuntas Kasus BSPS Sumenep, Elit Politik Jangan Kebal Hukum

    • calendar_month Senin, 19 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 254
    • 0Komentar

    Jarrakpos.com JAKARTA – Front Pemuda Madura (FPM) mengapresiasi langkah Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur yang mengambil alih penanganan kasus dugaan penyimpangan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Kabupaten Sumenep. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya penting untuk memastikan penegakan hukum berjalan tanpa intervensi, terutama dalam kasus yang diduga melibatkan elite politik. Ketua Umum FPM, Asip […]

  • Alit Kelakan dan Made Supartha Kompak Dukung UMKM Bali Apresiasi Pagelaran Singgasana Seni Bung Karno Disupport Gubernur Koster 

    Alit Kelakan dan Made Supartha Kompak Dukung UMKM Bali Apresiasi Pagelaran Singgasana Seni Bung Karno Disupport Gubernur Koster 

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 18
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com | Pagelaran Singgasana Seni Bung Karno berlangsung meriah di Bali Beach Convention Center, Sanur, Sabtu, 28 Pebruari 2026. Kegiatan ini menjadi panggung kolaborasi seni, budaya, dan penguatan ekonomi kerakyatan melalui fashion show, pertunjukan musik, pameran IKM produk lokal Bali hingga bazar kuliner UMKM. Acara tersebut dihadiri langsung Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri dan […]

  • Kasus LSD di Jembrana, Gede Ghumi Asvatham Pastikan Stok Daging Sapi Masih Aman

    Kasus LSD di Jembrana, Gede Ghumi Asvatham Pastikan Stok Daging Sapi Masih Aman

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com | Kebijakan Pemerintah melakukan pembatasan sementara distribusi sapi dari Kabupaten Jembrana dinilai sebagai langkah tepat untuk menekan penyebaran penyakit Lumpy Skin Disease (LSD). Anggota Komisi II DPRD Bali, Gede Ghumi Asvatham menegaskan bahwa pengendalian sejak dini penting dilakukan agar wabah tidak meluas ke wilayah lain di Bali. Menurutnya, fokus penanganan harus dipusatkan terlebih […]

  • Musyawarh Kabupaten (Muskab) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI ) Kabupaten Indramayu 2025.

    Musyawarh Kabupaten (Muskab) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI ) Kabupaten Indramayu 2025.

    • calendar_month Minggu, 27 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 272
    • 0Komentar

    INDRAMAYU Jarrak Pos.Com- Puncak kegiatan dari suatu organisasi adalah pelaksanaan Musyawarah Kabupaten untuk dapat menilai apakah program dan capaian target sudah di tercapai apa belum, selain itu pula sebagai proses regenerasi kepengurusan yang ada. IPSI Kabupaten Indramayu melaksanakan Musyawarah Kabupaten (Muskab) tahun 2025 yang bertempat di hotel Wiwi Perkasa Minggu (27/04/25). Dihadiri oleh pengurus IPSI […]

expand_less