Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tak Berkategori » Oka Antara Tegas Kritik Himbauan Penjor PLN: “Kalau Berbahaya, Kabel yang Diatur Bukan Penjor”

Oka Antara Tegas Kritik Himbauan Penjor PLN: “Kalau Berbahaya, Kabel yang Diatur Bukan Penjor”

  • account_circle admin
  • calendar_month Selasa, 18 Nov 2025
  • visibility 5
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR, Matakompas.com | Sekretaris Komisi I DPRD Provinsi Bali dari Dapil Karangasem, I Nyoman Oka Antara, menanggapi tegas imbauan PLN terkait jarak minimal pemasangan penjor dari kabel listrik.

 Ia menilai aturan yang dikeluarkan bukan hanya menyentuh aspek teknis keamanan, tetapi telah memasuki ranah kultur dan tradisi yang hidup ratusan tahun dalam masyarakat Hindu Bali.

Oka Antara menilai imbauan agar penjor dipasang minimal 2-2,5 meter dari kabel listrik mencerminkan ketidakpahaman PLN terhadap budaya Bali.

“Penjor itu sudah dibuat sejak ratusan tahun lalu. Setiap Galungan orang Hindu di Bali selalu memasang penjor. Baru kali ini muncul peringatan seperti ini dari PLN. Kalau listrik berbahaya, semestinya kabel yang diatur, bukan penjor,” tegasnya.

Ia menegaskan persoalan utama justru ada pada penataan kabel PLN yang dinilai semrawut dan tidak memperhatikan standar budaya lokal.

“Kalau listrik ini berbahaya, justru merekalah yang harus mengatur kabel-kabel itu. Jangan kabel ditarik rendah di pinggir jalan, di depan rumah orang. Kita sudah tahu setiap Galungan pasti ada penjor. Jadi bukan penjor yang harus menyesuaikan PLN,” tegasnya.

Oka Antara juga meminta PLN menempatkan pejabat yang memahami kultur dan nilai-nilai Hindu Bali.

“Bukan orang yang ingin menggeser atau mengerdilkan budaya Bali. Orang Bali sangat tersinggung. Penjor itu bukan sekadar hiasan. Ada lambang kemenangan Dharma melawan Adharma,” paparnya.

Penjor Galungan Dinilai Sakral dan Tidak Bisa Disamakan dengan Penjor Pernikahan

Ia menekankan bahwa penjor Galungan memiliki nilai spiritual tinggi.

“Penjor Galungan itu disembahyangi setiap hari hingga batas waktu setelah kuningan. Ada filosofinya, ada maknanya. Tidak bisa diperlakukan sama seperti penjor nikahan yang setelah upacara langsung dicabut,” jelasnya.

PLN Sudah Minta Maaf, Tetapi Dinilai Tidak Cukup

Meski PLN telah menyampaikan permohonan maaf, Oka Antara menegaskan persoalan tidak bisa selesai begitu saja.

“Kita maafkan, tapi tidak sesederhana itu. Justru PLN selama ini banyak membuat ‘ledah Bali’. Pasang kabel seenaknya, tidak pernah diupacarai, tidak pernah diplaspas. Orang suci keluar masuk di bawah kabel rendah seperti itu. Itu bukan hal sepele,” katanya.

Ia menilai kondisi kabel PLN yang rendah sering menghambat prosesi adat.

Soroti Dugaan Praktek Bisnis Saat Upacara Adat

Oka Antara turut menyoroti pungutan biaya tinggi saat warga membutuhkan penyesuaian kabel untuk prosesi besar seperti ngaben.

“Ada yang diminta bayar 25 juta, 50 juta, bahkan sampai ratusan juta hanya untuk menaikkan atau memindahkan kabel. Ini apa? Bisnis?,” tegasnya.

Ia mencontohkan pengalaman saat pengabenan di Karangasem untuk 900 KK, yang hampir terhambat akibat kabel terlalu rendah.

Usulkan Bali Bebas Kabel Udara

Atas berbagai persoalan tersebut, ia berencana mengusulkan regulasi agar Bali bebas dari kabel udara.

“Saya akan usulkan ke rekan-rekan DPRD Bali, ketetapan bahwa tidak boleh ada kabel di atas, khusus di Bali. Ini penting. Selain mengganggu estetika, juga menghambat adat istiadat,” ujarnya.

Oka Antara menilai kabel-kabel baru justru makin rendah dan membahayakan masyarakat.

PLN Jangan Atur Budaya Bali

Ia menegaskan agar PLN tidak membuat kebijakan yang bertentangan dengan adat Bali.

“Penjor adalah simbol kemenangan Dharma melawan Adharma. Sudah ratusan tahun ada. Jangan PLN sekarang datang dan menyuruh orang Bali menyesuaikan aturan mereka. Itu sangat keliru,” kata Oka Antara.

Ia menutup pernyataannya dengan desakan agar PLN Pusat menempatkan pejabat yang memahami kultur Bali.

“Bali mayoritas Hindu. Maka siapa pun yang bertugas di sini harus menghormati adat dan kultur kami. Bukan sebaliknya,” tegasnya. (red).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Emanuel Luan: “Mahasiswa Harus Berpihak pada Rakyat, Bukan Ditunggangi Kepentingan Politik”

    Emanuel Luan: “Mahasiswa Harus Berpihak pada Rakyat, Bukan Ditunggangi Kepentingan Politik”

    • calendar_month Rabu, 12 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Matakompas
    • visibility 3
    • 0Komentar

    NTT, Matakompas.com- Suara kritis datang dari tokoh muda Malaka, Emanuel Luan, yang menyoroti sikap sebagian mahasiswa asal Malaka di Jakarta. Ia menilai aksi damai yang dilakukan oleh sejumlah anggota Ikatan Mahasiswa Malaka (IMMALA) Jakarta di Kantor DPP Partai Golkar baru-baru ini menyimpan tanda tanya besar. Menurut Emanuel, aksi tersebut tampak tidak murni sebagai gerakan moral […]

  • Regenerasi Polri Mandek karena Kepemimpinan Terlalu Lama – HAMI Minta Prabowo Ganti Kapolri

    Regenerasi Polri Mandek karena Kepemimpinan Terlalu Lama – HAMI Minta Prabowo Ganti Kapolri

    • calendar_month Selasa, 24 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Jarrakpos.com Jakarta – Polri adalah institusi hukum yang menuntut gerak, bukan hanya dalam menangani perkara, tetapi dalam membangun sistem, memperbarui etika, dan menyegarkan kepemimpinan. Namun ketika satu figur terlalu lama duduk di pucuk kekuasaan, institusi yang mestinya hidup justru membeku. Inilah yang kini dirasakan oleh publik dan para kader internal terhadap kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. […]

  • Kalahkan Sriwijaya, PSMS Obati Luka

    Kalahkan Sriwijaya, PSMS Obati Luka

    • calendar_month Sabtu, 11 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 370
    • 0Komentar

    Medan – Tuan rumah PSMS Medan sukses meraih kemenangan 1-0 atas Sriwijaya FC, pada lanjutan Liga 2, di Stadion Baharuddin Siregar, Deli Serdang, Sabtu (11/1/2025) sore. Kemenangan ini tentu menjadi pelipur lara bagi tim berjuluk ayam kinantan, usai gagal lolos ke babak 8 besar.  Di awal laga, PSMS tampil lebih mendominasi dengan menerapkan serangan dari […]

  • Gawat, Oknum TNI Berpangkat Pamen Diduga Intervensi Kasus di Polda Metro Jaya

    Gawat, Oknum TNI Berpangkat Pamen Diduga Intervensi Kasus di Polda Metro Jaya

    • calendar_month Rabu, 9 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Jarrakpos.com Jakarta – Advokat dari Tim Relawan Prabowo Mania 08, Jeffri AM Simanjuntak SH. MH., mendesak Kapolda Metro Jaya  Irjen Pol Karyoto dan jajarannya segera menindaklanjuti laporan dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh seorang hipnoterapis bernama Sabrina Irine. Pasalnya, sudah 4 tahun sejak laporan tersebut dibuat oleh Dosen Universitas Negeri Medan (UNIMED), bernama Diana Hasyim ke […]

  • Kasus TPPU Skandal IUP PT Antam Hadirkan Terdakwa Windu Aji Susanto, Komisaris PT LAM TLP Belum Dijadikan Tersangka

    Kasus TPPU Skandal IUP PT Antam Hadirkan Terdakwa Windu Aji Susanto, Komisaris PT LAM TLP Belum Dijadikan Tersangka

    • calendar_month Rabu, 11 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 221
    • 0Komentar

    Jarrakpos.com Jakarta – Sidang lanjutan kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam skandal korupsi Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Antam di Blok Mandiodo, Kabupaten Konawe Utara, kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kembali digelar. Perkara tersebut tercatat dengan nomor 031-Pid-sus-TPK/2025/PN Jkt-Pst ini menghadirkan terdakwa Windu Aji Susanto dan menghadirkan ahli dari Pengacara Hukum […]

  • Soroti Kasus Kekerasan Anak, Seniasih Giri Prasta Tekankan Pentingnya Ikatan Emosional Orang Tua dan Anak

    Soroti Kasus Kekerasan Anak, Seniasih Giri Prasta Tekankan Pentingnya Ikatan Emosional Orang Tua dan Anak

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 1
    • 0Komentar

    BULELENG, Matakompas.com– Ketua Forum PUSPA (Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak) Provinsi Bali, Ny. Seniasih Giri Prasta, menyoroti banyaknya kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Kabupaten Buleleng. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Sosialisasi Kabupaten Layak Anak (KLA) di Kantor Bupati Buleleng, Selasa (31/3/2026). “Kekerasan yang dimaksud bukan hanya kekerasan fisik, tetapi […]

expand_less