Awal Tahun 2206, Desa Batuan Kaler Siap Luncurkan Desa Wisata Religius dan Trekking
- account_circle admin
- calendar_month Minggu, 7 Des 2025
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
GIANYAR, Matakompas.com – Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, bersiap melangkah menuju babak baru pariwisata berbasis budaya dan spiritual. Kepala Desa Batuan Kaler, I Wayan Suarma, S.E., mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mematangkan persiapan Launching Desa Wisata Religius dan Trekking yang ditargetkan berlangsung pada Februari 2026, sebelum perayaan Hari Raya Nyepi.
Saat ditemui di Wantilan Desa Adat Ganggangan Cangi, Minggu (7/12/2025), Suarma menjelaskan bahwa konsep desa wisata ini mengusung kekayaan situs-situs bersejarah, cagar budaya, serta jalur trekking yang membentang di tengah nuansa alam pedesaan yang masih asri.
Sembilan Situs Cagar Budaya Jadi Ikon Utama
Menurut Suarma, kawasan Cangi memiliki sembilan titik cagar budaya yang merupakan warisan leluhur dari masa Bali Kuno. Seluruh situs ini berada di area pura, dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat, dan hingga kini tetap disakralkan.
“Ini warisan leluhur. Semua situs ada di area pura dan masih dijaga kesuciannya. Masyarakat kini sudah siap membuka diri terhadap pariwisata tanpa meninggalkan nilai-nilai sakralnya,” ujar Suarma.
Sebelumnya, masyarakat sempat merasa khawatir bahwa wisatawan dapat mengganggu kesucian pura. Namun melalui dialog dan rapat desa, warga dan para pemangku akhirnya sepakat memberi izin dengan konsep wisata yang berbasis edukasi, budaya, dan spiritualitas.
Jalur Trekking dan Buku Panduan Sudah Disiapkan
Desa Batuan Kaler telah menyiapkan jalur trekking sepanjang hampir 1 kilometer yang melintasi persawahan dan kawasan hijau desa. Selain itu, pemerintah desa bersama dinas terkait telah menyusun buku panduan wisata, sejarah situs, dan pedoman guiding bagi para pemandu lokal.
“Semua jalur sudah kami buat. Buku-buku panduan juga sudah disiapkan agar penjelasan kepada wisatawan tidak asal-asalan. Ada standar narasi sejarah, budaya, dan tata cara kunjungan,” jelas Suarma.
Pengembangan SDM: Pokdarwis, Sanggar Seni, dan Pelatihan Anak Muda
Untuk memperkuat struktur pengelolaan, desa telah membentuk Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) serta sanggar budaya yang akan menjadi wadah anak-anak dan pemuda desa belajar gamelan, tari Bali, lagu-lagu tradisional, dan berbagai seni lainnya.
Semua pengajar dipilih dari tokoh-tokoh seni yang memiliki kompetensi dan rekam jejak kuat di bidangnya.
“Kami tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga membangun manusianya. Anak-anak harus tumbuh mencintai budaya Bali, sehingga desa wisata ini tidak hanya indah di mata, tapi hidup dalam nafas masyarakatnya,” tambahnya.
Melibatkan Pelaku Usaha Desa: Bergerak Bersama untuk Kemajuan
Seluruh pelaku usaha yang ada di Desa Batuan Kaler telah diundang untuk berkolaborasi dalam pengembangan desa wisata ini. Mereka menyatakan siap terlibat, baik dalam promosi, penyediaan layanan, maupun mendukung kegiatan budaya.
“Semua pelaku usaha siap. Kami ingin bangun desa wisata ini bersama, bukan hanya oleh pemerintah desa,” ujar Suarma.
Potensi Besar: Desa Religius di Tengah Lingkar Destinasi Besar
Desa Batuan Kaler berada di lingkaran kawasan wisata populer seperti Tegenungan, Kemenuh, dan objek-objek wisata seni di Sukawati. Namun, desa ini memiliki keunggulan berbeda: aura spiritual yang kuat dan situs bersejarah yang terjaga.
“Suasana pura-puranya berbeda. Auranya kuat karena jauh dari hiruk pikuk modernisasi. Ini daya tarik utama desa kami,” kata Suarma.
Peluncuran 2026: Dapat Dukungan dari Dinas dan Pemerintah
Suarma menegaskan bahwa pengembangan fasilitas desa wisata, termasuk sarana prasarana awal, mendapat dukungan dari dinas terkait. Setelah launching, pengelolaan akan diserahkan sepenuhnya kepada kelompok masyarakat desa.
Harapan Besar: Pelestarian Budaya Tanpa Merusak Alam dan Pertanian
Sebagai penutup, Kades Suarma menyampaikan harapan agar desa wisata ini menjadi sumber kesejahteraan baru bagi masyarakat, tanpa mengorbankan kelestarian budaya dan alam.
“Wisata ini harus berjalan sambil menjaga tradisi dan pertanian kami. Jangan sampai wisata merusak apa yang menjadi warisan leluhur. Justru melalui wisata inilah seni budaya Bali bisa terjaga dan diwariskan,” ujarnya.(Tim)
- Penulis: admin



Saat ini belum ada komentar