Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pembangunan Marak, Masa Depan Sawah Terancam, John Purna Manajer Operasional DTW Jatiluwih Minta Penegakan Aturan Dioptimalkan 

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
  • visibility 28
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TABANAN, Matakompas.com – Keramaian isu pembangunan di kawasan Subak Jatiluwih, Tabanan yang merupakan Warisan Budaya Dunia (WBD) UNESCO kembali mencuat setelah adanya aksi protes dan kunjungan sidak Panitia Khusus (Pansus) DPRD Bali. Menanggapi situasi itu, Manajer Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, John Ketut Purna atau akrab disapa John Purna, menyampaikan pandangannya terkait kondisi Jatiluwih dan maraknya pembangunan di kawasan sawah.

Dalam percakapan bersama redaksi, John Purna menegaskan bahwa sebagai manajer operasional, ia tidak memiliki kewenangan langsung terkait polemik pembangunan di lahan subak. Persoalan tersebut berada di wilayah kewenangan subak, perbekel desa, dan bendesa adat. Namun demikian, ia merasa perlu menyampaikan pandangan berdasarkan keluhan wisatawan, sopir wisata, dan pemandu yang setiap hari beraktivitas di Jatiluwih.

Keluhan Wisatawan dan Pemandu: Pembangunan Sudah “Sangat Marak”

John mengungkapkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir ia menerima banyak komplain dari wisatawan dan para pelaku pariwisata mengenai masifnya pembangunan di area persawahan Jatiluwih.

“Keadaan Jatiluwih, saya banyak sekali mendapat komplain dari driver, guide, dan turis. Pembangunan di Jatiluwih sudah sangat marak. Saya berharap pertanian di Jatiluwih tetap berkelanjutan, dan aturan harus tetap dilaksanakan,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika pembangunan tidak dikendalikan, maka keberlanjutan lanskap sawah terasering ikon utama Jatiluwih akan terancam. Bahkan, status WBD UNESCO bisa dalam posisi rawan.

“Kalau kita biarkan terus, nanti kita bisa bermasalah dengan UNESCO. Lama-lama generasi muda kita tidak bisa melihat sawah lagi karena terlalu masifnya pembangunan,” tegasnya.

Petani Tetap Bisa Membangun, Tapi Ada Aturannya

Menanggapi isu di media sosial yang menyebut petani tidak boleh berjualan atau membangun sama sekali, John meluruskan bahwa pemerintah desa dan lembaga adat sebenarnya sudah memberikan toleransi.

“Sudah ada kesepakatan antara Desa Jatiluwih dan pihak PM Datar Banan. Petani diperbolehkan membangun di sawah dengan ukuran maksimal 3 x 6 meter, bebas peruntukannya, termasuk untuk berjualan. Jadi bukan tidak boleh sama sekali,” jelasnya.

Selain ukuran bangunan, material dan konsep bangunan juga telah diatur.

“Semuanya sudah diatur atap harus alang-alang, modelnya alami. Artinya aturan sudah jelas, tinggal ikuti saja agar seimbang,” katanya.

John menegaskan bahwa kebijakan tersebut dibuat agar para petani tetap memiliki ruang usaha, sambil tetap menjaga kelestarian lanskap.

Mengutamakan Kepentingan Jangka Panjang

John mengajak seluruh pihak baik petani, pemilik usaha, maupun masyarakat yang saat ini membangun di area sawah untuk melihat dampak jangka panjang.

“Saya sadar, siapa pun pasti marah kalau usahanya dibatasi. Tapi coba pikirkan jauh ke depan. Kalau sawah habis, siapa yang rugi? Cuma segelintir yang untung, tapi ribuan warga lainnya kehilangan masa depan,” ujarnya.

Ia mencontohkan, saat ini ada sekitar 13 pelaku usaha yang membangun cukup masif di area sawah.

“Kalau 13 orang ini dibiarkan, dan masing-masing punya keluarga besar, yang menikmati hanya mereka. Sisanya sekitar 3.000 penduduk jadi kehilangan kesempatan,” tegasnya.

Menunggu Keputusan Para Pemangku Wilayah

Mengenai hasil sidak Pansus DPRD Bali, John menyatakan bahwa pihaknya akan mengikuti apa pun keputusan dari desa dinas, desa adat, subak, dan pemerintah daerah.

“Solusi semuanya saya serahkan kepada pemangku yang punya hak. Saya hanya menyampaikan apa yang saya dengar dari tamu, guide, dan driver. Intinya, alam yang di luar itu harus dipertahankan,” katanya.

John juga meminta agar setiap penyampaian sikapnya ditulis secara proporsional agar tidak menimbulkan konflik dengan para pihak yang sedang bersinggungan dalam persoalan ini.

“Tolong jangan sampai pernyataan saya bikin saya dimusuhi. Saya hanya ingin Jatiluwih tetap terjaga,” ucapnya.

Menjaga Jatiluwih untuk Generasi Mendatang

Sebagai pengelola operasional DTW, John Purna berharap Jatiluwih bisa terus menjadi destinasi wisata dunia yang alami dan lestari. Ia mengajak seluruh pihak untuk menaati aturan yang dibuat pemerintah desa dan adat, demi keberlanjutan subak dan warisan budaya dunia.

“Aturan sudah ada, mari kita sama-sama ikuti. Tujuannya bukan untuk melarang, tapi menjaga agar Jatiluwih tetap seperti yang dicintai wisatawan sawah yang berkelanjutan, bukan bangunan masif,” tutupnya. (Red)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Panggung Penentuan! Babak 16 Besar ETMC Ende 2025 Segera Bergulir, Simak Jadwal dan Daftar 16 Tim yang Lolos

    Panggung Penentuan! Babak 16 Besar ETMC Ende 2025 Segera Bergulir, Simak Jadwal dan Daftar 16 Tim yang Lolos

    • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Matakompas
    • visibility 27
    • 0Komentar

    NTT, Matakompas.com- Laga penutup babak penyisihan ETMC XXXIV Ende 2025 pada Sabtu, 22 November 2025, menghadirkan duel panas antara Persada SBD dan Nirwana 04 Nagekeo. Pertandingan yang berlangsung ketat itu dimenangkan Persada SBD dengan skor tipis 2–1, sekaligus memastikan mereka melangkah ke babak 16 besar melalui jalur Peringkat Tiga Terbaik. Kemenangan ini juga resmi melengkapi […]

  • Perumda Denpasar Tegaskan Titik Parkir Resmi Hanya 700, Siapkan Rasionalisasi dan Perketat Pengawasan

    Perumda Denpasar Tegaskan Titik Parkir Resmi Hanya 700, Siapkan Rasionalisasi dan Perketat Pengawasan

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • account_circle admin
    • visibility 30
    • 0Komentar

    DENPASAR — Julukan Denpasar sebagai kota dengan “seribu parkir” atau bahkan “sejuta parkir” yang berkembang di tengah masyarakat mendapat penjelasan dari Perumda Bhukti Praja Sewakadarma Kota Denpasar. Direktur Utama Perumda Bhukti Praja Sewakadarma Kota Denpasar, I Nyoman Putrawan, menegaskan jumlah titik parkir yang secara resmi dikelola pihaknya tidak mencapai angka tersebut. Berdasarkan pendataan dan kontrak […]

  • Gubernur Koster Dorong BPJS Kesehatan Perluas Layanan Kesehatan Berkualitas di Bali

    Gubernur Koster Dorong BPJS Kesehatan Perluas Layanan Kesehatan Berkualitas di Bali

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 26
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com – Gubernur Bali, Wayan Koster menegaskan pelayanan kesehatan untuk masyarakat Bali merupakan pelayanan dasar yang harus diperluas jangkauannya dari Kabupaten/Kota se-Bali sampai ke Puskesmas dengan layanan yang berkualitas. Karena itu, Gubernur Bali, Wayan Koster pada, Jumat (Sukra Keliwon, Watugunung) 3 April 2026 di Jayasabha meminta Deputi Direksi Wilayah XI BPJS Kesehatan, Sofyeni untuk […]

  • Arta Wirawan Bidik Kursi Ketua IMI Bali, Bawa Tiga Pilar Menuju Prestasi Nasional hingga Internasional

    Arta Wirawan Bidik Kursi Ketua IMI Bali, Bawa Tiga Pilar Menuju Prestasi Nasional hingga Internasional

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 40
    • 0Komentar

    DENPASAR – I Nyoman Arta Wirawan, S.Pt., S.H., M.H., memaparkan alasan sekaligus visi besarnya maju sebagai calon Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bali. Ia menawarkan pembenahan organisasi yang dibarengi penguatan prestasi olahraga otomotif, pengembangan sport tourism, serta peningkatan kepedulian sosial dan lingkungan. Arta Wirawan menilai Bali memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kekuatan otomotif […]

  • Polemik Marina Serangan: Izin Pusat, Dampak di Daerah

    Polemik Marina Serangan: Izin Pusat, Dampak di Daerah

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 24
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com — Di tengah klaim bahwa seluruh perizinan telah “clear”, aktivitas pengurukan untuk proyek Marina di Serangan, justru memunculkan pertanyaan serius: apakah izin yang ada benar-benar sejalan dengan perlindungan lingkungan pesisir Bali, atau sekadar memenuhi prosedur administratif? Menteri Lingkungan Hidup membuka peluang review, sementara pemerintah daerah menegaskan proyek sudah berjalan berbekal izin KKPRL. Proyek […]

  • Tukar Guling Tahura Mangrove BTID Disidik, Instansi Terkait Bersiaplah Diperiksa

    Tukar Guling Tahura Mangrove BTID Disidik, Instansi Terkait Bersiaplah Diperiksa

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 28
    • 0Komentar

    JEMBRANA, Matakompas.com – Kasus dugaan tukar guling kawasan Tahura mangrove yang melibatkan PT Bali Turtle Island Development (BTID) memasuki babak baru. Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali resmi meningkatkan status penanganan perkara ini ke tahap penyidikan. Informasi tersebut disampaikan Kepala Bidang I Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali, Hesti Sagiri, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) […]

expand_less