Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pariwisata Bali di Persimpangan: DPRD Kompak Dorong Kualitas, Fraksi-Fraksi ‘Adu Gagasan’ Soal Regulasi dan Pajak

  • account_circle admin
  • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
  • visibility 16
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR, Matakompas.com — Masa depan pariwisata Bali kembali menjadi panggung perdebatan strategis dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi Bali, Selasa (14/4/2026). Di balik kesepahaman untuk melanjutkan pembahasan dua Rancangan Peraturan Daerah (Raperda), dinamika pemikiran antar fraksi justru memperkaya arah kebijakan yang akan menentukan wajah Bali ke depan.

Rapat yang dipimpin Wakil Ketua I DPRD Bali, I Wayan Disel Astawa, itu turut dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster, jajaran pimpinan dewan, anggota DPRD, serta tenaga ahli. Forum ini menjadi momentum penting dalam merumuskan arah kebijakan strategis, khususnya terkait Raperda Tata Kelola Usaha Pariwisata Bali Berkualitas dan perubahan Perda Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Dari seluruh pandangan fraksi, satu benang merah mengemuka: Bali harus berani bertransformasi dari pariwisata massal menuju pariwisata berkualitas, tanpa mengorbankan budaya, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Fraksi PDI Perjuangan menegaskan bahwa pembangunan pariwisata tidak boleh tercerabut dari akar budaya Bali. Melalui pandangan yang dibacakan Putu Diah Pradnya Maharani mewakili Ketua Fraksi I Made Supartha, PDIP mengingatkan bahwa pertumbuhan tanpa kendali justru akan melahirkan persoalan serius.

“Pariwisata Bali tidak boleh tumbuh tanpa kendali,” tegas Diah. Ia menyoroti ancaman nyata seperti tekanan tata ruang, persoalan sampah, hingga penurunan kualitas lingkungan.

Bagi PDIP, Raperda ini harus berfungsi sebagai lex specialis yang mampu menjangkau tidak hanya aspek administratif, tetapi juga pengawasan, pembinaan, hingga penegakan hukum secara konsisten. Pengendalian perizinan berbasis zonasi dan daya dukung lingkungan menjadi kunci agar pembangunan tidak melampaui batas.

Pandangan senada datang dari Fraksi Demokrat–NasDem. Melalui I Gede Ghumi Asvatham yang mewakili Ketua Fraksi Dr. Somvir, fraksi ini mendukung penuh arah kebijakan pemerintah, namun tetap memberikan catatan kritis.

Mereka mengapresiasi langkah Gubernur Wayan Koster dalam merumuskan pariwisata berbasis nilai lokal, tetapi menilai aspek hukum, terutama terkait pungutan wisatawan asing, perlu diperkuat. Selain itu, wacana pembatasan kuota wisatawan dinilai strategis, namun harus berbasis kajian ilmiah dan didukung sistem yang transparan.

“Regulasi harus tetap memberi ruang bagi persaingan yang sehat,” tegas Ghumi, mengingatkan potensi praktik monopoli jika pengaturan tidak dirancang secara hati-hati.

Sementara itu, Fraksi Gerindra–PSI mengajukan pendekatan yang lebih konseptual. Melalui Gede Harja Astawa, mereka mengkritisi penggunaan istilah “pariwisata berkualitas” yang dinilai berpotensi menciptakan dikotomi. Sebagai alternatif, mereka mendorong penggunaan konsep “berkelanjutan” yang dianggap lebih menyeluruh.

Fraksi ini juga menegaskan bahwa pariwisata tidak bisa lagi dipandang sebagai kumpulan usaha semata, melainkan sebagai ekosistem kompleks yang melibatkan interaksi antara wisatawan, masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha. Mereka juga menyoroti peluang besar sektor seperti sport tourism dan wisata spiritual yang belum tergarap optimal.

Tak hanya itu, isu transparansi turut menjadi sorotan, mulai dari pengelolaan pungutan wisatawan asing hingga penggunaan anggaran sektor pariwisata. Menurut mereka, pembangunan Bali harus nyata dirasakan masyarakat, bukan sekadar membangun citra.

Dari Fraksi Golkar, pandangan strategis disampaikan melalui I Nyoman Wirya mewakili Ketua Fraksi Agung Bagus Tricandra Arka (Gung Cok). Golkar melihat Raperda ini sebagai momentum penting untuk menata ulang pariwisata Bali secara lebih terarah.

Namun, mereka juga mengajukan langkah tegas berupa moratorium pembangunan hotel dan vila di Bali Selatan. Usulan ini dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap over-supply, alih fungsi lahan, serta meningkatnya tekanan terhadap lingkungan dan infrastruktur.

“Penataan pariwisata harus berorientasi kualitas, bukan sekadar kuantitas,” tegasnya.

Golkar juga menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan dana pungutan wisatawan asing serta peningkatan kualitas layanan pariwisata secara menyeluruh, mulai dari pintu masuk di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai hingga kondisi destinasi wisata.

Dalam aspek fiskal, seluruh fraksi pada prinsipnya mendukung perubahan Perda Pajak dan Retribusi Daerah sebagai upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, mereka sepakat bahwa kebijakan fiskal tidak boleh semata mengejar pendapatan.

Retribusi harus menjadi instrumen peningkatan kualitas layanan publik, tarif harus adil dan proporsional, serta pengelolaan pendapatan harus transparan dan akuntabel.

Di tengah beragam pandangan tersebut, Rapat Paripurna DPRD Bali menjadi cerminan proses demokrasi yang dinamis. Perbedaan gagasan tidak menjadi penghalang, melainkan kekuatan untuk menyempurnakan kebijakan.

Pada akhirnya, semua fraksi sepakat bahwa Bali harus tetap melangkah maju. Namun, kemajuan itu harus berpijak pada harmoni—antara ekonomi, budaya, dan lingkungan—agar Pulau Dewata tetap ajeg sebagai destinasi dunia yang berkarakter dan bermartabat. (Red)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Berakhir Damai, Perselisihan WNA Prancis dan WNI di Denpasar Selatan Diselesaikan Lewat Mediasi

    Berakhir Damai, Perselisihan WNA Prancis dan WNI di Denpasar Selatan Diselesaikan Lewat Mediasi

    • calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 20
    • 0Komentar

    DENPASAR — Perselisihan antara seorang warga negara asing (WNA) asal Prancis berinisial XSAD dan warga negara Indonesia (WNI) berinisial AS yang sebelumnya masuk dalam pengaduan masyarakat (Dumas) di Polsek Denpasar Selatan, akhirnya berujung damai. Kedua pihak sepakat mengakhiri persoalan melalui jalur mediasi yang berlangsung di Polsek Denpasar Selatan, Rabu (19/8/2026). Penyelesaian ditempuh dengan mengedepankan komunikasi, […]

  • Upah Minimum Bali : Rendah di Angka Tinggi di Dampak.

    Upah Minimum Bali : Rendah di Angka Tinggi di Dampak.

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Bali
    • visibility 61
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com – 4 September 2026, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Udayana (BEM FH UNUD) menyampaikan aspirasi dan keprihatinan mereka terkait masalah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) dan Upah Minimum Provinsi (UMP) pekerja di Bali yang masih jauh dengan standar kehidupan yang layak. Persoalan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di Bali kembali menjadi sorotan di tengah […]

  • Skandal Wantilan Tukadaya: Dana Rp630 Juta Diduga Dipangkas, Nama Oknum Anggota DPRD Jembrana Terseret

    Skandal Wantilan Tukadaya: Dana Rp630 Juta Diduga Dipangkas, Nama Oknum Anggota DPRD Jembrana Terseret

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 27
    • 0Komentar

    JEMBRANA, Bali – Kasus dugaan korupsi pembangunan Wantilan Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, mulai membuka tabir baru. Proyek yang dibiayai melalui Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Pemerintah Kabupaten Badung tahun 2023 senilai Rp630 juta itu hingga kini tak kunjung rampung dan justru menyeret nama seorang oknum anggota DPRD Jembrana. Bangunan wantilan yang sejatinya menjadi fasilitas […]

  • Tagel Winarta Turun Langsung ke Antiga Kelod, Soroti Proyek Sungai yang Picu Banjir

    Tagel Winarta Turun Langsung ke Antiga Kelod, Soroti Proyek Sungai yang Picu Banjir

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 16
    • 0Komentar

    KARANGASEM, Matakompas.com  – Kekhawatiran warga Desa Antiga Kelod, Kabupaten Karangasem, terkait proyek betonisasi di alur sungai akhirnya mendapat perhatian serius dari DPRD Provinsi Bali. I Wayan Tagel Winarta, Anggota DPRD Provinsi Bali dari Daerah Pemilihan (Dapil) Gianyar, turun langsung ke lapangan untuk memastikan kebenaran laporan masyarakat yang menilai proyek tersebut berpotensi memperparah banjir. Peninjauan dilakukan […]

  • Dari Istana Tampaksiring ke Wantilan Sading, PEPABRI Bali Perkuat Gerakan Pengelolaan Sampah

    Dari Istana Tampaksiring ke Wantilan Sading, PEPABRI Bali Perkuat Gerakan Pengelolaan Sampah

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 20
    • 0Komentar

    GIANYAR – DPD PEPABRI Bali meneguhkan komitmennya dalam mendukung penanganan darurat sampah di Bali. Untuk itu, DPD PEPABRI Bali melakukan kegiatan simakrama kebangsaan di Wantilan Desa Sading, Tampaksiring, Gianyar, Kamis, 7 Mei 2026. Kegiatan yang dirangkaikan dengan arisan rutin anggota itu berlangsung usai rombongan PEPABRI Bali menelusuri jejak sejarah di Istana Kepresidenan Tampaksiring.  Forum tersebut […]

  • Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bali, DR (C) I Made Supartha, Ajak Masyarakat Maknai Galungan dan Kuningan dengan Semangat Dharma

    Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bali, DR (C) I Made Supartha, Ajak Masyarakat Maknai Galungan dan Kuningan dengan Semangat Dharma

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 159
    • 0Komentar

    DENPASAR – Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan momentum suci bagi umat Hindu untuk memperingati kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (kejahatan). Perayaan yang jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026 untuk Galungan dan Sabtu, 27 Juni 2026 untuk Kuningan ini menjadi pengingat penting akan nilai-nilai spiritual, kebersamaan, serta pengabdian kepada masyarakat. Dalam semangat hari suci tersebut, […]

expand_less